Traveling memang memberikan pengalaman yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saat traveling Anda menikmati banyak atraksi wisata yang menakjubkan. Mulai dari atraksi wisata alam sampai bangunan tua yang penuh sejarah. Satu lagi atraksi wisata yang cukup menarik perhatian adalah atraksi hewan. Hewan memang mahluk unik yang sering membuat manusia terkagum-kagum. Tetapi karena itu jugalah di banyak tempat, hewan sering disalahgunakan untuk tujuan pariwisata dan tanpa sadar para traveler pun banyak yang berpartisipasi.

Jika Anda pernah berkeinginan untuk menunggang gajah, berenang dengan lumba-lumba, menyaksikan topeng monyet atau berfoto dengan macan berantai, tanpa disadari Anda ikut berpartisipasi dalam melanggengkan kekejaman terhadap hewan.

Di Sri Lanka terdapat 5.800 gajah liar Asia dan 340 gajah jinak  dan gajah-gajah tersebut sering dijadikan atraksi wisata di Taman Nasional Yala. Di sana Anda bisa melihat gajah ada di mana-mana tetapi mereka dirantai, menunggu diarak dalam kostum untuk upacara kuil atau tak henti-hentinya membawa para wisatawan ke sana sini.

Gajah dirantai di Sri Lanka.
Gajah dirantai di Sri Lanka.

Organisasi Non-profit Internasional seperti  World Animal Protection telah menentukan bahwa penangkaran memiliki dampak berbahaya pada hewan-hewan ini, dan bukan hanya gajah yang sering menjadi korban atraksi wisata. Tetapi ada juga macan yang dibius di dalam “cagar alam”, ular dengan mulut yang dijahit, topeng monyet jalanan, dan paus orca liar di penangkaran.

Bagaimana hal ini masih terjadi?

Pertunjukan Gajah di Bali Elephant Camp.
Pertunjukan Gajah di Bali Elephant Camp.

Masalah terbesar dengan atraksi satwa liar adalah bahwa orang-orang tidak menyadari pelecehan yang mereka lakukan. Di tengah kegembiraan menyaksikan hewan-hewan lucu dan mengagumkan, para traveler tidak berpikir kritis tentang industri di belakang hiburan.

Sekitar 80 persen orang yang berpartisipasi dalam atraksi satwa liar seperti ini tidak berpikir bahwa tindakan mereka bisa sangat membahayakan keberlangsungan hewan-hewan tersebut. Unit Penelitian Konservasi Margasatwa Universitas Oxford tahun lalu menerbitkan studi  tentang pariwisata satwa liar dan hasilnya memberikan implikasi bahwa masih banyak hal yang harus dilakukan untuk mendidik wisatawan dan pejabat pemerintah setempat terkait atraksi hewan.

Beberapa langkah memang telah dilakukan seperti di Indonesia tepatnya di Jakarta, yang melarang pertunjukan topeng monyet. Pertunjukan monyet dilarang untuk meminimalisir kekejaman terhadap hewan dan menghindari penyebaran penyakit yang dibawa oleh monyet atau kera. Pertunjukan monyet di Indonesia memang marak terjadi bahkan Anda bisa menyaksikannya di jalan raya saat lampu merah.

Monyet yang dirantai dileher untuk memudah kendali saat pertunjukan.
Monyet yang dirantai dileher agar mudah dikendalikan saat pertunjukan.

Sea World juga telah mengumumkan berakhirnya pengembangbiakan dan penangkapan paus orca. Dan lusinan perusahaan pariwisata berjanji untuk tidak berpartisipasi dalam treks atau pertunjukan gajah.

Pertunjukan Orca di SeaWorld.
Pertunjukan Orca di SeaWorld.

Memang tidak semua hewan diperlakukan semena-mena untuk tujuan pariwisata atau sirkus. Mungkin ada juga pemilik yang bertanggung jawab yang memperlakukan hewan-hewannya dengan baik. Namun, itu tidak menjadi alasan untuk tutup mata terhadap hewan-hewan lain yang diperlakukan tidak semestinya.

Jika Anda sangat menyenangi hewan dan ingin melihat atraksi hewan, cara terbaik adalah dengan menyaksikannya di habitat alami mereka. Misalnya, jika Anda ingin menyaksikan atraksi lumba-lumba atau paus orca lebih baik Anda melihatnya di laut dari pada melihatnya di pertunjukan keliling. Dengan begitu Anda masih bisa menikmati atraksi hewan-hewan tersebut dengan cara yang bertanggung jawab.

Menyaksikan lumba-lumba di lautan.
Menyaksikan lumba-lumba di lautan.

Itulah sedikit pembahasan seputar permasalahan terkait atraksi hewan. Setelah membaca artikel di atas, apakah Anda masih tertarik untuk menyaksikan atraksi hewan yang tidak bertanggung jawab?