Penyakit ketinggian atau yang dikenal dengan nama acute mountain sickness biasanya menyerang para pendaki gunung di ketinggian sekitar 8.000 kaki di atas permukaan laut. Hal ini dapat terjadi karena pada ketinggian tersebut, kadar oksigen jauh lebih rendah. Namun para ilmuwan belum mengetahui secara pasti apakah penyakit ketinggian ini dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, atau tingkat kebugaran.

Namun, ada satu faktor yang menyebabkan terserang penyakit ketinggian adalah pendakian terlalu cepat atau memanjat terlalu cepat dalam mendaki gunung. Tapi tenang saja, tubuh Anda dapat menyesuaikan diri dengan ketinggian, tetapi mungkin perlu beberapa hari untuk kembali normal.

Sebelum mengetahui cara mengatasinya, ketahui lebih dulu gejala penyakit ketinggian.

Gejala Penyakit Ketinggian

Kenali gejala penyakit ketinggian.

Altitude sickness adalah istilah yang mencakup banyak sindrom. Sindrom yang paling ringan dan paling umum adalah acute mountain sickness atau penyakit ketinggian. Gejala biasanya berupa sakit kepala, mual, kelelahan, sesak napas, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, dan pusing.

“Gejala-gejalanya mirip dengan gejala mabuk parah,” kata Dr. David Shlim, yang menjabat sebagai kepala Asosiasi Penyelamatan Himalaya selama lebih dari 10 tahun dan saat ini menjalankan Jackson Hole Travel & Tropical Medicine di Wyoming. Olahraga berat malah dapat membuat gejala-gejala ini makin parah.

Terkadang penyakit gunung akut berkembang menjadi penyakit yang lebih parah yang dikenal sebagai high-altitude cerebral  edema (HACE), yang melibatkan pembengkakan di otak. Bentuk lain dari penyakit ketinggian adalah high-altitude pulmonary edema (HAPE), atau penumpukan cairan di paru-paru. Kedua kondisi ini mengancam jiwa dan membutuhkan perawatan segera.

Gejala-gejala yang harus mendapatkan perhatian ekstra adalah sesak napas bahkan ketika sedang beristirahat, batuk dengan dahak berbusa, berdegup di dada, demam, kebingungan, rasa kantuk, perubahan warna kulit biru atau ungu, dan gangguan koordinasi. Jika Anda atau teman perjalanan mengalami gejala gejala ini, turun ke ketinggian yang lebih rendah dan segera cari bantuan medis.

Cara Mencegah Penyakit Ketinggian

Mendaki.
Mendaki.

Perencanaan jadwal yang cermat adalah salah satu cara paling penting untuk mencegah penyakit ketinggian. Sebaiknya tidak langsung menghabiskan malam pertama Anda di dataran tinggi. Lebih baik turun ke ketinggian yang lebih rendah untuk beristirahat beberapa hari pertama perjalanan Anda. Misalnya, banyak pelancong ke Cusco memilih untuk tinggal di Lembah Suci terdekat selama beberapa malam pertama perjalanan mereka untuk menyesuaikan diri secara bertahap.

Rencanakan untuk bersantai ketika Anda pertama kali tiba di ketinggian yang lebih tinggi. Itu berarti Anda tidak perlu berupaya keras mendaki lereng pada hari pertama. Bagi mereka yang merencanakan perjalanan, tim medis di Global Rescue merekomendasikan untuk menghabiskan minimal dua hari untuk beristirahat dan menyesuaikan diri di ketinggian setidaknya 9.000 kaki sebelum Anda memulai pendakian.

Pastikan jadwal pendakian Anda termasuk waktu istirahat. Sesuaikan pula langkah dengan kemampuan Anda. The Asosiasi Internasional untuk Bantuan Medis bagi Travellers (IAMAT) memperingatkan bahwa pendaki tidak boleh mendaki lebih dari 300 meter (984 ka ki) per hari.

Sebelum melakukan perjalanan di ketinggian, kunjungi klinik perjalanan untuk konsultasi. Dokter Anda mungkin meresepkan acetazolamide (sering disebut Diamox), obat penyakit ketinggian yang paling umum. Ketika Anda mulai mengkonsumsinya sehari sebelum tiba di ketinggian, itu dapat membantu Anda menyesuaikan diri lebih cepat. Efek samping termasuk sering buang air kecil dan kesemutan di tangan dan kaki. Wisatawan
dengan alergi tertentu mungkin tidak dapat mengambil acetazolamide.

Jika Anda mendaki bersama anak-anak, mereka dapat meminum obat penyakit ketinggian yang diminum orang dewasa, namun dalam dosis yang lebih kecil. Anda sebaiknya tidak membawa balita ke medan yang tinggi karena mereka belum bisa mengungkapkan apa yang mereka rasakan jika ada sesuatu yang salah  pada diri mereka. Sementara untuk anak-anak yang sudah cukup besar, pastikan rencana perjalanan Anda sesuai dengan kemampuan mereka.

Cara Atasi Penyakit Ketinggian

Jika penyakit ketinggian menyerang meskipun Anda sudah berhati-hati, istirahatlah dan hindari mengerahkan tenaga yang tidak perlu. Anda sebaiknya banyak minum teh, jus jeruk, dan air putih, serta jangan konsumsi alkohol dan merokok. Selain itu, konsumsi obat Ibuprofen dan aspirin dapat membantu mengatasi sakit kepala. Selain itu, tabung oksigen juga menawarkan kelegaan bagi banyak pelancong yang menderita gejala otak atau paru.

Adapun obat herbal, seperti teh koka dari Amerika Selatan, masih diperdebatkan oleh berbagai ahli medis beragam. Yang paling penting bagi pendaki adalah mengakui bahwa Anda merasa sakit dan tidak berusaha mengabaikannya.

Pastikan untuk tidak lupa membawa barang-barang yang bisa mencegah serta mengobati penyakit ketinggian agar tidak mengganggu rencana mendaki Anda.