Kilimanjaro adalah gunung tertinggi di wilayah Benua Afrika. Gunung berapi yang masih aktif ini terletak di negara Tanzania. Memiliki ketinggian sekitar 5.895 meter dari permukaan air laut, gunung Kilimanjaro dari dulu hingga kini selalu menjadi destinasi utama para pendaki. Lantas seperti apa sensasi mendaki gunung yang sering diselimuti gletser ini? Di bawah ini, kami akan menggambarkan ilustrasi pendakian puncak Kilimanjaro di tengah malam.

Kilimanjaro, gunung berapi tertinggi di Benua Afrika.
Kilimanjaro, gunung berapi tertinggi di Benua Afrika.

Hari Puncak

Pendakian hari ini merupakan pendakian puncak, setelah enam hari lamanya mendaki dari lereng gunung Kilimanjaro. Awal pendakian dimulai tepat tengah malam. Kondisi lingkungan perkemahan sangat gelap dan cuacanya dingin. Dingin sekali. Para pemandu pendakian akan membangunkan Anda dan peserta lain pukul 23:00 untuk bersiap-siap. Jangan kaget jika Anda tak bisa melakukan rangkaian persiapan dengan santai. Di dalam tenda yang kecil dan hanya ditemani cahaya lampu seadanya takkan bisa membantu Anda berpakaian dengan nyaman. Anda pasti akan tersandung-sandung sambil merasakan udara dingin yang ‘menampar’ wajah.

Simpan harapan menyantap dengan lahap beragam makanan lezat saat mendaki. Anda akan makan semangkuk bubur berair. Bubur berair mengerikan yang sama yang akan Anda makan setiap pagi selama seminggu. Enam hari bubur berair mengerikan untuk cadangan energi selama enam hari mendaki. Turun, naik, turun lagi dan naik lagi. Sepuluh ribu kaki (3 km), 13.000 kaki (4 km), 15.000 kaki (4,5 km). Berjalan perlahan sepanjang 4.000 kaki (1 km) lagi. Kelompok pendaki sudah terlihat lelah dan kedinginan. Suasana hatinya mulai berubah dan tak menentu. Tidak ada yang bicara atau terlihat ngobrol satu sama lain. Dan di saat kondisi sunyi seperti ini, Anda bisa melihat nafas Anda sendiri. Lalu 4.000 kaki (1 km) lagi.

Kondisi perkemahan pendaki di kala tengah malam.
Kondisi perkemahan pendaki saat tengah malam.

Barisan ‘Zombie’

Setelah satu jam lamanya, pendakian ini seperti barisan menuju kematian. Anda bergerak seperti zombie dalam gelap dan diam. Anda ibarat bagian dari satu barisan panjang zombie yang bergerak lambat. Sorotan sinar dari lampu di bagian depan ‘mengotori’ langit dan ada banyak sorotan lampu depan.

Bila Anda menengadah ke atas, maka akan melihat kereta zombie lain yang bergerak lambat dengan lampu depan, mengular di gunung. Naik. Naik. Pemandangan ini bakal nyaris menghancurkan semangat Anda. Begitu banyak zombie, jauh di depan Anda. Begitu banyak sorotan lampu. Saat berada jauh lebih tinggi lalu menengok ke belakang, Anda akan melihat pemandangan yang sama. Yakni satu baris panjang zombie bak kereta yang bergerak lambat dengan lampu berliku-liku. Karena itu, tundukan kepala dan fokus pada sepatu bot Anda saja bila bosan dengan pemandangan sama selama enam hari berturut-turut.

Usir Rasa Bosan

Dua jam berlalu dan Anda tetap kedinginan. Di saat seperti ini, ada baiknya Anda menciptakan mantra penyemangat. Anda mencoba menghitung langkah untuk mengusir kebosanan, tapi langkah Anda terlalu lambat sehingga pada akhirnya Anda secara tak sadar menciptakan sebuah pola.

Ayunkan tangan kiri. Ayunkan kaki kiri. Kaki kanan. Tangan kanan. Sayang, pola ini tidak berhasil mengusir rasa bosan. Sampai pada titik tertentu, Anda mulai melihat ritme. Ritme ini bermula ketika hidung Anda berair sehingga Anda tidak bisa berhenti menghirup air yang keluar dari hidung tersebut. Melangkah, melangkah, menghirup. Coba Anda perhatikan. Melangkah, melangkah, menghirup, dan ini menjadi mantra penyemangat ajaib Anda.

Menyemangati Diri Sendiri

Pria di depan Anda tampak sangat lelah. Jalannya mulai goyah. Anda tahu jika dia jatuh, Anda pun akan ikut terjatuh. Jadi Anda harus menyemangatinya dan mendorongnya dengan segenap kekuatan untuk membuat tetap berjalan dengan mantap. Sambil menempelkan tangan Anda ke punggungnya, bisikkan kata-kata hampa seperti “Ayo, Anda bisa melakukannya!” Setelah itu, ucapkan mantra penyemangat Anda sendiri. Melangkah, melangkah, menghirup.

Gletser di Kilimanjaro sebabkan udara dingin menggigit.
Gletser di Kilimanjaro sebabkan udara dingin menggigit.

Setelah berjalan lambat di tengah cuaca dingin yang menggigit, rasa sakit yang tajam mulai menyergap bahu. Anda bisa tahu rasa sakit itu bukan karena otot yang pegal tapi karena ransel atau barang bawaan Anda dalam posisi yang tidak pas sehingga memukul saraf. Anda mencoba membenarkan posisi ransel tetapi semua persediaan air yang Anda bawa membeku sehingga menjadi berat. Rasa sakitnya sekarang luar biasa. Lalu secara tiba-tiba rasa sakit itu lenyap. Melangkah, melangkah, menghirup.

Berjalan perlahan, Anda terus melanjutkan perjalanan sambil menahan derita. Beberapa kali Anda harus membenarkan posisi balaclava Anda untuk menutupi hidung yang membeku. Tetapi ketika Anda menutup hidung, Anda tidak bisa bernapas dengan mudah sehingga Anda akan sibuk menyesuaikan posisi balaclava secara bergantian untuk bernapas dan melindungi hidung Anda dari beku. Dalam hal ini, biasanya bernapaslah yang menang. Melangkah, melangkah, menghirup.

Anda tersandung pada bebatuan gunung dan turun merangkak. Lutut Anda mengenai batu yang tajam dan Anda berharap itu tidak berdarah dan menempel pada pakaian Anda. Barisan zombie yang bergerak lambat dengan sorotan lampu berhenti untuk menunggu Anda bangun. Anda mencoba berdiri tetapi barang bawaan Anda yang penuh dengan air beku terlalu membebani. Seseorang di belakang Anda membantu dan barisan lambat mulai bergerak kembali. Namun sayang, Anda lupa mengucapkan terima kasih pada sosok penolong.

Sepatu Bot

Seharusnya memakan waktu enam jam untuk mencapai tujuan. Tapi dalam situasi seperti ini, Anda dipastikan tidak akan tahu jam berapa sekarang dan Anda takut untuk bertanya. Masih gelap di sini. Sangat gelap. Mantra terus berlanjut. Melangkah, melangkah, menghirup.

Udara dingin yang tak bisa ditolerir membuat jari-jari kaki membeku sehingga Anda mencoba menggoyangkannya di dalam sepatu bot Anda. Sepatu bot yang sama yang Anda pakai selama enam hari memanjat. Sepatu bot yang telah Anda tatap berjam-jam mulai dari tengah malam tadi. Sepatu bot yang seakan mengkhianati Anda dalam cuaca dingin. Sepatu bot yang sekarang mulai Anda hina.

Ketika merasakan nyeri tajam di bagian lutut kiri, Anda akan ingat rasa sakit itu dari dua hari yang lalu tetapi Anda pikir itu sudah hilang. Rasa sakitnya semakin tajam, seperti pisau di kaki. Anda ingin menggosoknya tetapi Anda takut menghentikan ritme perjalanan kereta zombie yang bergerak lambat dengan sorotan lampu. Kemudian secara tiba-tiba, rasa nyeri itu menghilang. Melangkah, melangkah, menghirup.

Makan Cokelat di Ketinggian

Portir pembawa barang di Kilimanjaro.
Pembawa barang di Kilimanjaro.

“Polé polé,” bisik portir (buruh pembawa barang) dengan suara yang syahdu. Polé polé merupakan bahasa Swahili yang berarti pelan-pelan. Anda akan sering mendengar ungkapan itu selama enam hari mendaki Gunung Kilimanjaro. Para portir yang turut dalam pendakian adalah bagian dari suku Maasai (kelompok suku asli Afrika yang memiliki pola hidup semi nomaden dan bisa ditemui di wilayah Tanzania dan Kenya) yang mewarisi sikap agung dan suara lembut yang khas.

Polé polé,” dia berbisik lagi sambil meletakkan sebatang cokelat ke tangan. Anda mungkin tidak suka cokelat tetapi saat berada di ketinggian Kilimanjaro, percayalah, Anda akan sangat membutuhkannya. Dengan jari tangan yang bersarung dan beku, Anda mencoba memotong cokelat tetapi tetap kesulitan karena si potongan cokelat itupun ikut beku.

Saat Anda akhirnya berhasil memotong sepotong dan menaruhnya di bawah lidah Anda untuk membiarkannya meleleh, itu akan menjadi salah satu momen terbaik yang Anda miliki selama enam hari di Kilimanjaro. Tetapi hidung Anda sangat tersumbat sehingga Anda harus membuka mulut. Gumpalan cokelat tebal mencoba meluncur keluar sehingga Anda menghisapnya kembali bersamaan dengan udara dingin. Anda mulai tersedak. Anda membutuhkan air tetapi kemudian teringat air yang Anda bawa telah membeku. “Saya baik-baik saja,” Anda berusaha susah payah menjelaskannya di antara batuk hebat akibat tersedak. Melangkah, melangkah, menghirup,…dan batuk.

Pemandu Kilimanjaro dan portir menyebut barisan pendaki sebagai switchback (kabel dan saklar lampu). Medan menuju puncak ketinggian terlalu curam dan penuh liku untuk didaki hingga kereta zombie berlampu pun bergerak dengan lebih lambat. Zig dan kemudian zag. Sepertinya upaya ini buang-buang waktu, tetapi Anda kehilangan kesombongan untuk membuktikan maksud Anda. Polé polé. Melangkah, melangkah, menghirup.

Pasir Gunung di Mulut

Para pendaki di depan Anda bergerak terlalu lambat sehingga grup Anda sedikit menjauh ketika memanjat permukaan batu. Anda merangkak dengan harapan ransel Anda dengan air beku di dalamnya akan membuat Anda seimbang. Anda akan berada pada posisi didahului oleh sekelompok pendaki dari negara lain dan kemungkinan satu di antaranya akan membisikkan kata atau kalimat ajaib yang jika saat itu Anda tak berada di Kilimanjaro akan tersinggung dibuatnya. Tapi sekali lagi, inilah keagungan dan hikmah pendakian Gunung Kilimanjaro. Anda dituntut lebih sabar di tengah dinginnya cuaca dan sulitnya medan.

Grup Anda kembali ke barisan zombie yang bergerak lambat dan tersorot lampu. Langkahnya bagus. Tidak terlalu cepat tetapi juga tidak terlalu lambat sehingga kaki Anda akan membeku. Melangkah, melangkah, menghirup. Pendakian begitu curam sekarang sehingga Anda berpikir tendon Achilles Anda mungkin patah dan detak jantung Anda keluar dari grafik. Barisan zombie yang bergerak lambat dengan sorot lampu berhenti sejenak untuk mengatur napas. Tetapi terlalu dingin untuk lama berdiri diri sehingga Anda memilih meneruskan langkah. Polé polé. Melangkah, melangkah, menghirup.

Sekarang tangan Anda dingin. Anda mencoba menggoyangkan jari-jari Anda yang terbungkus sarung tangan, di dalam sarung tangan, di dalam saku tapi rasa hangat tidak kunjung datang. Dan sekarang hidung Anda membeku tetapi Anda tidak ingin mengeluarkan tangan dari saku untuk menghangatkan wajah. Melangkah, melangkah, menghirup. Anda membutuhkan lebih banyak cokelat tetapi Anda tidak dapat menemukannya di saku Anda. Anda tahu ada makanan di dalam bekal yang Anda bawa tetapi sekarang Anda bertanya-tanya mengapa Anda bahkan membawa bungkusan itu jika semua yang ada di dalamnya beku dan tangan Anda terlalu dingin untuk menggapainya.

Anda menemukan sisa-sisa makanan yang sudah dua hari di dalam saku lainnya. Anda memasukkannya ke dalam mulut bersamaan dengan butiran-butiran pasir gunung dan es gletser. Kerikil-kerikil kecil berderak di gigi Anda. Anda harus mengunyah dengan mulut terbuka agar bisa bernapas dengan baik. Sebagian jatuh dari mulut Anda dan mendarat di lutut. Dalam kondisi dingin yang hebat, Anda sudah tidak peduli. Polé polé. Melangkah, melangkah, menghirup.

Sang fajar muncul di cakrawala.
Sang fajar muncul di cakrawala.

Lelah yang Terbayar

Anda tiba di sebuah dataran tinggi. Barisan zombie yang bergerak lambat dengan sorotan lampu berhenti dan kemudian terdengar sorak girang dari para pendaki. Anda belum terlalu yakin apa yang telah terjadi. Seorang portir mengeluarkan termos berisi air panas sambil membagikan kacang mete. Portir itu terlihat manis dan cantik dengan air panas dan kacang metenya. “Hampir sampai,” jelas sang pemandu. Hampir sampai! Matahari mulai terbit dan barisan pendaki mulai lagi bergerak dengan lambat. Polé polé. Anda berbelok di tikungan dan melihat ke atas. Saat itu, ucapan penuh syukur serta kalimat memuja keagungan Sang Pencipta datang bersamaan dalam berbagai bahasa.

Yang Anda lihat adalah tiga pegunungan besar yang memisahkan Anda dan puncak gunung. Dataran tinggi dengan air panas dan kacang mete hanya hiburan awal yang segera Anda sadari kala menatap tiga punggung bukit besar. Sungguh tak bisa terlupakan. Anda berada di tempat yang tinggi dan masih gelap menanti sang fajar muncul di singgasananya. Sekarang hampir pukul 06:00 pagi dan barisan zombie yang bergerak lambat bersorot lampu terus mendaki menuju tempat yang lebih tinggi untuk menyongsong sang fajar. Dan sebuah perasaan hangat mendadak muncul. Sebuah pencerahan. Momen kebenaran. Kejelasan singkat saat sebuah suara di kepala Anda berteriak dalam keheningan: “Rasa lelah perlahan terbayar sudah!”

Nah, apakah jiwa petualang Anda tergugah membaca ulasan ini? Siap menguji ketahanan fisik dan menaklukan Gunung Kilimanjaro?