Old Delhi didirikan sebagai Shahjahanabad pada tahun 1639, ketika Shah Jahan, kaisar Mughal pada waktu itu, memutuskan untuk memindahkan ibu kota Mughal dari Agra. Pembangunan kota selesai pada 1648, dan tetap menjadi ibu kota Kekaisaran Mughal sampai musim gugur tahun 1857, ketika kerajaan Inggris mengambil alih kekuasaan terpenting di India.

Dulu kota ini dipenuhi dengan bangunan dan Mesjid yang indah. Namun kini tinggal puing-puingnya yang tersisa. Kebobrokan bangunan tersebut tak lain karena berbagai konflik yang terjadi di India, dan masyarakat tak mampu mempertahankan mahakarya sang leluhur.

Meski begitu, warga sekitar maupupn turis masih bisa melihat reruntuyan arsitektur yang spektakuler, beragam kuliner yang menggiurkan, dan jejak peradaban yang menghidupkan manusia.

Makanan Old Delhi

Makanan adalah hal yang wajib di kota ini. Selokan-selokan sempit Old Delhi menyimpan beragam masakan yang luar biasa untuk ditawarkan. Aroma makanan surgawi secara harfiah membebaskan orang-orang untuk makan lebih lahap.

Salah satu camilan yang dijual di Ghantewala Halwai .

Citarasanya sudah teruji oleh pemandu wisata lokal hingga internasional. Masakan di sini pada umumnya didominasi oleh daging, dan juga menawarkan paratha panas yang lezat. Sementara itu jalan sempit yang terletak di Chandni Chowk dan memiliki serangkaian toko yang menawarkan paratha, roti India goreng yang diisi dengan isian yang lezat. Ghantewala Halwai adalah salah satu toko manis tertua di India, yang didirikan pada tahun 1790.

Chandni Chowk dan Chawri memiliki banyak sambungan jalan yang menawarkan chaat pedas dan tajam, dahi bhalle, tikki, chaat buah kulle, dan phirni (hidangan manis). Karim’s Place sangat terkenal dengan kebab-nya. Terletak di area Masjid Jama. Toko ini didirikan oleh Haji Karimuddin dengan ide membuka dhaba pada tahun 1913. Semua pecinta daging harus mampir di Karim karena kebab yang indah dan daging kambing ilahi.

Arsitektur Old Delhi

The Red Fort, bangunan arsitektur bersejarah yang tersisa di Old Delhi.

Arsitektur Old Delhi adalah cerminan mahakarya arsitektur Mughal, yang bertabur kharisma dan nostalgia. Sambil berjalan melewati jalan-jalan tua Delhi, Anda menyadari setiap tembok memiliki cerita sendiri. Old Delhi adalah kota berdinding yang berbentuk seperti seperempat lingkaran dengan Red Fort sebagai titik fokusnya. Kota tua itu dikelilingi oleh tembok yang menutupi sekitar 1500 hektar dengan 14 gerbang. Meskipun sebagian besar dinding telah menghilang, namun sebagian besar gerbang masih ada.

Potret The Red Fort di masa lampau.

Benteng Merah dinamai karena dinding batu pasir merahnya yang besar dan letaknya yang dekat dengan Benteng Salimgarh. Bangunan ini merupakan pusat pemerintahan Politik yang paling berpengaruh saat masa keemasan Mughal. Dibangun pada tahun 1648 oleh Shah Jahan, arsitekturnya mencerminkan perpaduan tradisi Persia dan Timurid, bersama dengan taman besar yang indah. Dan sekarang puing-puing tembok ini ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO pada 2007.

Benteng Merah memiliki luas 254,67 hektar yang dikelilingi oleh tembok pertahanan 2,41 kilometer, diselingi oleh menara dan bastion dengan ketinggian bervariasi dari 18 meter di sisi sungai hingga 33 meter di sisi kota. Benteng itu berbentuk segi delapan, dengan poros utara-selatan lebih panjang dari poros timur-barat. Marmer, dekorasi bunga, dan kubah ganda di bangunan benteng mencontohkan arsitektur futuristik Mughal.

Masjid Jama

Terletak di Chandni Chowk, Masjid Jama adalah salah satu masjid terbesar di India. Dibangun oleh Kaisar Mughal Shah Jahan antara tahun 1644 dan 1656 dengan biaya satu juta rupee. Bangunan ini memiliki tiga gerbang, empat menara, dan dua menara setinggi 40 m yang dibangun dari potongan batu pasir merah dan marmer putih.

Masjid Jama India saat matahari terbenam.

Masjid ini dibangun di atas serambi batu pasir merah yang berjarak sekitar 30 kaki dari permukaan tanah. Halaman ini dapat menampung 25.000 orang. Benteng Merah berada di seberang Masjid Jama. Lantainya ditutupi dengan marmer hias putih dan hitam agar terlihat seperti sajadah muslim. Di sampingnya, perbatasan hitam tipis ditandai untuk para penyembah.

Budaya besar Old Delhi tidak pernah kehilangan pesonanya, memberi kita jendela untuk melihat sejarah.