Berikut ini adalah pengalaman salah satu pelancong ketika homestay di Andes, Peru. Semoga pengalamannya menginspirasi Anda untuk memulai perjalanan Anda sendiri!

Sisi kanan mulut saya mati rasa ketika daun coca berayun di sekitar geraham dan pipi saya. Pemandu lokal kami, Angelito, mengoper kantong plastik di sekitar van sehingga kami dapat memuntahkan ampasnya yang membuat mulut mati rasa. Pendakian 14.000 kaki membuat dada saya terasa seperti diduduki kawanan alpaka. Napas saya terasa berat dan kapan pun kita berhenti, kecepatan langkah saya terasa seperti bergerak selangkah lebih maju tetapi juga bergerak dua langkah lebih mundur. Setelah mendarat di Arequipa dan naik ke mobil van bersama rekan-rekan saya, tubuh saya perlahan-lahan menyesuaikan diri. Mata saya melakukan hal yang sama dengan pemandangan sekitar. Saya tidak tahu apakah saya merasa pusing karena saya nyaris mengalami hipoksia atau karena pemandangannya begitu menakjubkan.

homestay andes peru

Saat kami meluncur di jalan terbuka dan lorong-lorong yang penuh dengan vicuna, alpaka, dan llama, luasnya alam sekitar memenuhi jendela saya. Kami menuju Chivay Valley untuk makan siang sebelum melanjutkan ke homestay kami untuk malam di Canocota.

Kami tiba di sore hari di sebuah desa kecil di pegunungan Andes. Tuan rumah kami Señor Pedro dan Señora Julia sedang menunggu kedatangan kami untuk menyambut kami di rumah mereka. Mereka berusia enam puluhan dan senang ditemani – anak-anak mereka telah pindah ke kota sehingga ada banyak kamar kosong di rumah. Kami diantar ke ruang tamu dan disambut dalam bahasa asli Quechua. Tuan rumah kami, mengenakan pakaian asli mereka yang indah dan berwarna-warni, menyampaikan sambutan yang hangat. Mereka mengatakan bahwa mereka mungkin tidak memiliki banyak, tetapi rumah mereka memiliki hati yang besar. Berdasarkan apa yang saya alami ketika menginap, hal ini adalah benar adanya.

Saya duduk di kamar yang terasa seperti tempat persinggahan gunung yang sempurna. Saya kemudian pergi ke gerbang depan dengan kamera di tangan di mana ada sekelompok anak-anak berlari di jalan setapak. Ketika mereka mendekat, saya menyambut mereka dengan “Hola!” Dan mereka dengan cepat mengakrabkan diri ke saya. Meskipun bahasa Quechua saya tidak lancar, saya bersyukur saya tahu sedikit bahasa Spanyol untuk secara aktif berkomunikasi dan terhubung dengan warga sekitar. Saya mengambil beberapa foto mereka dan mereka berkerumun di sekitar kamera ketika saya menunjukkan hasilnya.

Begitu ibu mereka memanggil mereka, saya kembali ke rumah di mana Señora Julia bertanya pada saya dan rekan wisatawan Michaela apakah kita tertarik meminjam pakaian tradisional untuk kegiatan kita selanjutnya yaitu merawat tanah. Saya segara menerima kesempatan itu karena saya sudah mengagumi gaun dan topi tradisional yang dikenakan penduduk sekitar sejak saya tiba.

Dia menunjukkan pakaian tersebut untuk kami berdua dan kami bergantian berpakaian dengan bantuannya. Berpakaian lengkap dengan pakaian lokal tiba-tiba membuat saya merasa lebih dekat dengan Señora Julia, lebih dekat ke tanah, dan sangat terhubung dengan budaya lokal. Merangkul estetika eksternal secara sepenuhnya memberikan kami kesempatan untuk terhubung dengan budaya sekitar secara lebih intim.

homestay andes peru
Señor Pedro memegang kentang.

Kami berangkat ke pertanian mereka dan giliran Señor Pedro menunjukkan beberapa hal kepada kami. Di lapangan dia memberi kita arit dan menunjukkan teknik menggunakannya untuk mencabut deretan kentang. Saya mengenakan gaun tradisional, melawan penyakit ketinggian, sabit di tangan, dan hal tersebut membuat saya salut akan pekerjaan yang dilakukan di sini setiap hari.

Teknik membersihkan kentang saya tidak sebagus teknik Señor Pedro, jadi dia dengan ramah datang dan menunjukkan kepada saya beberapa keterampilan menggunakan sabit secara baik dan benar. Ketika tangan saya menjadi kotor dan saya berdiri untuk mengamati lanskap sekitar, saya menyadari bahwa perasaan saya tentang koneksi ke tanah sama nyatanya dengan koneksi yang saya buat dengan penduduk setempat.

Saya merasa sangat membumi, merasakan tanah di bawah kuku saya. Seakan-akan saya adalah bagian dari kehidupan Andes. Saat kita sibuk dengan kentang, Señor Pedro dan Señora Julia mengumpulkan sayuran segar untuk makan malam.

homestay andes peru
Pengalaman memanen kentang dan sayuran segar merupakan salah satu momen tak terlupakan dari homestay di Andes.

Kami selesai bekerja saat matahari terbenam dan sekarang waktunya untuk mulai bekerja di dapur. Sementara Señora Julia menyiapkan sup, dia menempatkan saya untuk mengupas kacang fava. Saya menghabiskan beberapa menit sendirian dengannya dan kami mengobrol. Saya bertanya kepadanya apa yang dia sukai tentang tinggal di tempat dia tinggal, dan dia dengan cepat berbicara tentang bagaimana hidupnya yang sederhana dan indah. Dia tidak memiliki banyak, tetapi dia memiliki semua yang dia butuhkan. Saya diingatkan dengan betapa jauhnya saya dari makanan. Saya pergi ke toko untuk membeli produk dalam kemasan dan Señora Julia memiliki toko bahan makanan organik sendiri di depan pintunya. Mereka merawat tanah dan tanah menyediakan semua yang mereka butuhkan. Mereka sangat terhubung dengan bumi dan saya merasa iri atas kesederhanaan mereka.

Rekan-rekan seperjalanan saya bergabung dan mengupas kentang di meja sebelah. Di sini kita berada di sebuah rumah orang asing yang sekarang terasa seperti rumah sendiri, menyiapkan makan malam seperti keluarga. Nafsu makan kami sangat besar, setelah bekerja keras di lapangan, dan kami berkumpul di sekeliling meja untuk menikmati hasil kerja kami. Saya selalu kagum pada bagaimana makan di sekitar satu meja dapat menciptakan keintiman yang tak tertandingi. Kemarin saya tidak kenal orang-orang ini dan sekarang kita semua saling berbagi dalam percakapan, cerita, makanan enak layaknya teman baik.

homestay andes peru
Menyiapkan makanan bersama Señora Julia.

Kami tidur dengan perut penuh dan bangun keesokan paginya untuk melakukan satu aktivitas terakhir sebelum pergi. Kemarin kami memetik tanaman dan hari ini kami menanamnya. Kami menuju ke bidang yang kami bagi bersama dua sapi jantan besar. Merekalah yang melakukan pekerjaan nyata saat Señor Pedro membimbing mereka melintasi tanah. Saya berada di depan lembu jantan (berusaha mendorong jauh-jauh pikiran ditanduk oleh lembu ini) dan membiarkan benih-benih tanaman jatuh dari tangan agar dilahap bumi.

Saya menyadari bahwa saya telah melihat lingkaran penuh ko-dependensi dengan alam dalam dua hari homestay: penanaman, panen, dan konsumsi.

Ketika saya terputus dari Wi-Fi dan layanan seluler, saya terhubung kembali dengan perasaan kebersamaan yang sangat manusiawi. Keesokan harinya, ketika kami berpisah, saya merasa seperti mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman lama. Meskipun tas dan tubuh saya hanya menghabiskan satu malam di rumah Señor Pedro dan Señora Julia, hati besar rumah Señora Julia benar-benar telah meresap di hati saya.