Siapa tak kenal Gunung Bromo? Gunung yang satu ini pesonanya sangat kuat! Wisatawan domestik maupun mancanegara sampai-sampai terpukau dan rela menghabiskan waktu mendaki untuk sekedar menikmati keindahan panorama alamnya.

Satu dari sekian banyak destinasi wisata alam andalan Provinsi Jawa Timur ini memang tak pernah surut pengunjung. Hanya peringatan akan bahaya aktivitas gunung berapi yang dikeluarkan pemerintah saja yang bisa meruntuhkan semangat mereka untuk mengunjunginya. Lantas, apa yang menjadi daya tarik Gunung Bromo sehingga layak untuk dijadikan destinasi wisata?

Pesona Gunung Bromo sangat kuat.
Pesona Gunung Bromo sangat kuat.

Lautan Pasir

Gunung yang memiliki ketinggian sekitar 2.392 meter dari permukaan laut ini terletak di empat area kabupaten Jawa Timur ini yakni Kabupaten Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang. Gunung ini termasuk gunung berapi yang masih aktif. Tercatat, hampir selama 20 abad ini, Gunung Bromo meletus dengan interval atau jangka waktu 30 tahun sekali.

Sebagai gunung berapi yang masih aktif, menariknya Gunung Bromo justru dinobatkan sebagai salah satu tempat wisata yang paling banyak dikunjungi di Jawa Timur. Selain karena masih tergolong asri, pemandangan lautan pasir yang terhampar di dataran tempat gunung tersebut berdiri menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Merasakan sensasi lautan pasir dengan jalan kaki atau berkuda.
Merasakan sensasi lautan pasir dengan jalan kaki atau berkuda.

Bila Anda ingin mendaki gunung berapi Bromo dan merasakan sensasi menginjakkan kaki di lautan pasir ada dua cara yang bisa Anda tempuh yakni berjalan kaki sekitar 45 menit dari pintu masuk di kawasan desa pegunungan Cemoro Lawang kemudian melanjutkan perjalanan sekitar 2 jam dengan berjalan kaki atau menunggang kuda menuju kawasan puncak atau kawah gunung.

Cara kedua bisa ditempuh dengan paket tur naik mobil jip yang tersedia dan terorganisir dengan baik di kaki gunung kawasan wisata alam tersebut. Jika memilih paket tur mobil jip, Anda bisa menikmati serta mengabadikan pemandangan yang sangat indah di perhentian Gunung Penanjakan (ketinggian sekitar 2.770 meter dari permukaan laut).

Upacara Adat

Gunung berapi Bromo berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Nama Bromo berasal dari bahasa Jawa ‘Brahma’ yaitu Dewa Pencipta dalam kepercayaan umat Hindu. Sebagai cagar alam yang telah dilindungi sejak tahun 1919 ini, gunung ini juga menyimpan daya tarik berupa pelaksanaan upacara adat yang diselenggarakan setiap tahunnya. Upacara itu bernama Yadnya Kasada atau Upacara Kasodo yang digelar pada saat bulan purnama muncul di bulan Desember atau Januari.

Alkisah, upacara adat Kasodo ini berawal di zaman kekuasaan Kerajaan Tengger pada abad ke-15. Diceritakan penguasa kerajaan, Putri Roro Anteng, dan Joko Seger, sang suami, pada saat itu sangat mendambakan keturunan karena sejak menikah belum juga dikaruniai buah hati. Untuk mendapatkan keinginannya, kedua pasangan suami istri itu berdoa dan memohon kepada dewa gunung.

Kawah gunung.
Kawah gunung.

Dewa gunung mengabulkan permohonan keduanya dengan memberikan 24 anak. Syaratnya, anak ke-25 harus dikorbankan dengan cara dilemparkan ke kawah gunung sebagai bentuk persembahan. Titah dewa gunung dilaksanakan dan secara turun temurun menjadi tradisi bagi masyarakat Tengger. Mereka mengadakan upacara Kasodo dengan cara melemparkan hasil bumi ke kawah Gunung Bromo. Tujuannya sebagai tanda terima kasih atas hasil panen yang didapat dan sebagai bentuk permohonan agar hasil panen tetap lancar di hari-hari selanjutnya. Menarik, bukan?

Pasti Anda penasaran dan ingin melihat keelokan Gunung Bromo secara langsung, bukan? Segera masukkan dalam daftar destinasi wisata Anda dan siapkan waktu untuk mengunjunginya bersama keluarga atau orang terdekat!

Namun sebelum memutuskan pergi sebaiknya Anda wajib mencari tahu kondisi gunung tersebut. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Indonesia terkadang mengeluarkan peringatan dini terhadap tingkat aktivitas Gunung Bromo. Jika aktivitas gunung berapi itu meningkat, sebaiknya tunda dulu penjelajahan Anda.