Jika Anda mencari sedikit petualangan saat berada di Kamboja, Provinsi Mondulkiri di timur laut negara ini adalah tempat yang tepat. Oleh karena sebagian besar Kamboja adalah dataran rendah, yang didominasi oleh sawah, sudut terpencil ini sedikit istimewa. Sebagian besar tetap tidak tersentuh dan diselimuti hutan lebat.

Jika Anda berani menjelajah ke dalam hutan, Anda mungkin menemukan semua jenis satwa liar, dan bahkan bertemu dengan beberapa penduduk asli Bunong!

Untuk bertualang ke hutan terbaik ini, tak ada salahnya memilih paket wisata Proyek Mondulkiri. Paket wisata ini menjanjikan interaksi langsung dengan gajah. Dengan pergi ke Mondukiri, Anda juga berkesempatan untuk bertemu orang-orang Bunong, tinggal di hutan, sambil tetap mempraktikkan perjalanan berkelanjutan. Singkatnya, liburan Proyek Mondukiri sangat mendukung pelestarian gajah dan ekosistemnya.

Hari 1: Gajah Kamboja

Ada 15 pelancong yang mengunjungi gajah bersama saya, dan dari obrolan latar belakang yang cepat, jelas semua orang bersemangat seperti saya.

Kami berkumpul pada pukul 8:30, untuk menaikki truk pick-up menuju ke jantung hutan. Setelah beberapa kilometer, kami terguncang di jalan tanah yang berbatu. Jalan jauh dari kata mulus. Setelah sekian lama menaikki pick up, saya dan beberapa orang yang mengikuti program harus berjalan kaki sekian meter.  Kemudian kami disambut oleh Mr. Tree di sebuah gubuk kayu kecil yang menampilkan pemandangan hutan lebat yang membentang di hadapan kami. Di sinilah sebagian dari kita akan tidur malam ini!

Rumah dimana kami tidur, selama mengikuti proyak gajah di Mondulkiri .

Mr.Tree yang membentuk Proyek Mondulkiri pada tahun 2013, memikat kami selama satu jam ketika ia berbicara dengan penuh semangat tentang kesejahteraan gajah di Kamboja. Ia juga bercerita tentang kehidupan unik masyarakat adat Bunong dan keadaan hutan. Dan juga berbagai upaya yang dilakukan untuk melestarikan masa depan ekosistemnya.

Sebagai perkenalan, pembicaraan itu adalah hal yang menarik dan membuat saya senang. Artinya, saya bisa mendukung sebuah organisasi yang benar-benar peduli untuk mempromosikan gajah secara keberlanjutan.

Setalah berbincang-bincang dengan Mr, Tree, sekarang para peserta wisata harus bersiap-siap. Mr.Tree akan mendampingi kami untuk bertemu dengan gajah. Kita harus membawa buah yang banyak.

Bertemu gajah

Saya membawa sebondol pisang yang belum dipisah. Bobotnya agak berat, terutama karena saya masih kelelahan akibat perjalanan jauh. Untuk bertemu kawanan Gajah, saya harus berjalan ke arah sungai. Di sanalah biasanya para Gajah sering bermain. Dan benar saja, saya bertemu gajah bernama Lucky.

Pemandangan ini adalah hal yang memesona. Akhirnya saya bertemu gajah di habitat aslinya, dan itu adalah momen istimewa. Dia berjalan dengan acuh tak acuh ke arah kami, ukuran raksasa sebenarnya menjadi semakin jelas semakin dekat dia sampai dia berdiri di hadapan saya.

Kami menatapnya dan dia balas menatap. Saya tidak percaya bisa sedekat itu dengan gajah. Aku mengulurkan tangan dan dengan lembut mengelus belalainya yang kasar dan kusut. Kami masing-masing memiliki banyak pisang yang kami kupas satu per satu. Lalu kami beri ke arah mulut Lucky. Melihat ukuran tubuhnya, sungguh menakjubkan betapa lembutnya dia mengambil pisang yang saya tawarkan.

Setelah sarapan pisang, tiba saatnya untuk mandi pagi di sungai. Saat itu juga saya melihat kawan Lucky datang dari kejauhan. Mereka mendengar siulan beberapa staf yang bertugas. Seolah tau bahwa mereka dipanggil untuk mandi. Namun sepertinya mereka juga lapar.

Belalai mereka berkeliaran dengan panik di antara kami untuk mencari pisang. Dengan cepat belalai gajah ini meraih pisang. Kami harus berhati-hati untuk menyembunyikan pisang kami di belakang, agar gajah tidak rebutan makanan.

Memberi makan gajah dan menyaksikan mereka berkeliaran di sungai begitu menarik sehingga saya belum menyadari beberapa jam telah berlalu. Kini waktunya kami makan siang. Sebuah tikar telah diletakkan di lantai gubuk kayu dengan hidangan nasi, daging babi, dan sayuran hijau.

Setiap hidangan rasanya lezat dan para staf tidak ingin kami kelaparan. Saat waktu makan inilah kami saling berinteraksi satu sama lain, bertukar cerita dari mana kami berasal, hobi dan kegemaran lainnya.

Waktu Mandi Gajah

Cerita kami tak berhenti sampai di situ. Pukul 2 siang kami pergi di jalan lain yang membawa kami ke air terjun dengan genangan air besar di bawahnya. Mengingat panasnya cuaca saat itu, kami semua melompat langsung untuk menyiram dan mendinginkan diri. Sementara kami menunggu gajah datang. Kami telah diberitahu bahwa Proyek Mondulkiri tidak akan memaksa gajah mereka untuk melakukan apa pun yang tidak mereka inginkan. Misalnya jika mereka tidak ingin berenang, mereka tidak akan dipaksa untuk ikut serta ke air.

Memandikan gajah, pengalaman tak ternilai bagi saya.

Kami terganggu oleh suara gemerisik tiba-tiba di hutan dan salah satu gajah perkasa muncul dari semak-semak. ia langsung masuk ke air bersama kami, memercikkan air dari setiap langkahnya yang berat. Itu adalah pemandangan yang sempurna, bahkan lebih baik daripada yang saya bayangkan sebelum tiba kesini. “Aku berenang di kolam di bawah air terjun, di hutan Kamboja, dengan seekor gajah”, aku mengingatkan diriku sendiri. Meyakinkan diri bahwa saya tidak bermimpi.

Setelah berenang di air terjun, saya dan beberapa wisatawan lain mengambil buah dan mencucinya. Kami harus memastikan bahwa gajah-gajah disini makan buah yang bersih.

Sambil memberi makan gajah, beberapa turis dan staf lain menggunakan ember dan tangan untuk memercikkan air ke  punggung mereka. Gajah betina tampaknya menikmati perickan air yang membasahi tubuhnya. Namun semua berakhir ketika salah satu gajah betina buang air dengan bebasnya. Semua turis yang ada di situ keluar dari kolam air terjun dan kembali ke pondok.

Makanan khas Kambodja yang lezat

Makan malam kami adalah masakan lokal yang disiapkan secara tradisional. Saya terkesan dengan cara pemandu Bunong memasak sup terong di atas api kayu dan memanfaatkan bambu sebagai wadah masak.

Tanpa pot dan wajan, bambu telah digunakan secara luas untuk memasak dan merebus air. Sementara kami menunggu makan malam, kami masing-masing diberi ‘gelas bambu’ yang elegan yang diisi dengan anggur beras buatan sendiri dan kami bersulang, “leuk dach” seperti kata mereka di Kamboja, menjadi hari yang sangat baik.

Makanan tradisional Kamboja yang lezat, disesiakan khusus oleh staf setempat.

Sekali lagi, banyak makanan dihidangkan untuk makan malam, dan rasanya sangat lezat, terutama sup bambu. Gubuk ditempatkan dengan sempurna menghadap ke barat, dan karenanya kami memandang matahari terbenam yang spektakuler. Dengan perut penuh dan kepuasan penuh, kami menyaksikan akhir hari di hutan, ketika langit berubah dari biru menjadi merah dan akhirnya menetap di hitam, dengan segelintir bintang.

Kami jatuh ke tempat tidur gantung yang telah dirangkai di dalam gubuk, dan semua dengan cepat tertidur. Saya terbangun satu atau dua kali di malam hari akibat kebisingan hutan. Di sini saya merasa kehidupan hutan asli. Menyaksikan kumbang statis dan serangga yang terus-menerus berdentangan, saya juga melihat jangkrik, dan kicau burung yang sesekali berdatangan. Liburan ini adalah hal yang sangat sempurna.

Hari 2: hiking

Sinar lembut pertama sinar matahari merembes menembus hutan dan jatuh di kelambu kami dan menggerakkan kami untuk bangun. Pagi hari adalah waktu terindah untuk alam. Saya merasa istirahat ini cukup. Pagi hari ini saya melahap pancake pisang dan cokelat, dan minum kopi, saya merasa lebih dari siap untuk mendaki panjang.

Salah satu trek yang harus saya lalui di Mondukiri. Pemandangan yang indah, namuns sesungguhnya kaki begitu lelah.

Hari kedua, saya harus berjalan hiking sepanjang 18 kilometer menuju desa Bunong. Perjalanan ini sungguh melelahkan. Saya harus berjalan kaki naik-turun bukit, sungai dan lembah. Tapi saya pikir perjalanan semacam ini akan cocok untuk orang yang tingkat kebugarannya sedang.

Ketika kami mendaki, pemandu menunjukkan banyak hal yang kami lewatkan. Saya kagum dengan pengetahuan luar biasa mereka tentang hutan dan manfaatnya bagi manusia. Dia menunjuk pohon-pohon yang memiliki lebah dan madu di dalamnya, dedaunan yang akan meredakan sakit kepala, dan pohon-pohon tempat Anda dapat mengumpulkan tar untuk membuat sampan tahan air.

Ketika kami berjalan, kami melewati orang-orang dari desa yang mengumpulkan bahan-bahan alami hutan. Wawasan tentang cara hidup yang unik ini, benar-benar berbeda dari cara hidup saya, sangat menarik. Namun perjalanan yang panas dan kondisi hutan tropis tidak begitu bersahabat dengan fisik saya. seperti belum terbiasa, meski bertualang ke sini menjadi hal yang menarik.

Di tengah rasa tidak nyama itu, saya dan tim menemukan air terjun. Wah, berjuta rasanya. Di tengah kelelahan kami, ada tiga air terjun yang indah. Air terjun kedua adalah yang paling mengesankan. Saya berdiri langsung di bawah dan membiarkan air jatuh di atas kepala saya. Setelah 8 jam kami mencapai puncak satu bukit terakhir dan disambut oleh warga desa. Kami merayakan dengan bir sebelum truk pickup tiba membawa kami kembali ke Sen Monorom.

Apa yang Membuat Proyek Mondulkiri Begitu Berkelanjutan?

Proyek Mondulkiri memprioritaskan kesejahteraan gajah Kamboja di atas yang lainnya. Ini berarti tidak ada yang mengendarai gajah, bahkan Mahout yang merawat mereka. Tetapi ini lebih dalam dari ini – Dalam pidatonya, Mr. Tree memberi tahu kami bahwa ada tiga cara di mana proyek gajah dapat memperoleh gajahnya;

Pertama, gajah dapat dipinjamkan setiap hari dari pemilik gajah lokal ketika ada cukup banyak wisatawan yang memesan dalam tur.

Kedua, proyek dapat meminjamkan seekor gajah dari pemilik gajah untuk jangka waktu yang tetap mungkin satu atau dua tahun.

Ketiga, proyek itu dapat membeli gajah itu sendiri. Di bawah dua pengaturan ‘sewa’ pertama. Setelah periode yang disepakati berakhir, gajah kembali ke pemilik yang bebas menggunakan gajah sebagai transportasi atau untuk pekerjaan berat.

Sebagai perbandingan, opsi ketiga, sejauh ini yang paling mahal, memastikan bahwa proyek gajah dapat melindungi masa depan gajah dan mencegahnya ditunggangi atau dianiaya lagi. Proyek Mondulkiri memiliki ketiganya. Mereka tidak akan mentoleransi gajah sebagai transportasi.

Gajah sering menjadi moda transportasi. Padahal struktur tubuhnya tidak tepat untuk melakukan hal itu.

Saya merasa sangat senang telah mendukung organisasi yang bertanggung jawab seperti Proyek Mondulkiri, dan berharap mereka lebih sukses dalam menyelamatkan lebih banyak gajah. Saya berharap suatu hari dapat mendengar tentang derap kecil langkah bayi gajah di Mondulkiri, yang pertama dalam 30 tahun.

Kesimpulan

Proyek Mondulkiri tidak diragukan lagi merupakan puncak waktu saya di Kamboja. Pengalaman menjadi dekat dan pribadi dengan tiga gajah yang luar biasa itu. Pengalaman ini sangat unik dan istimewa. Saya senang saya tinggal untuk hari kedua. Hanya dengan tambahan $ 30, saya bisa merasakan pengalaman tak terkirakan. Tidur di hutan dengan teman-teman baru, makan makanan lokal, dan perjalanan dengan pemandu yang berpengetahuan luas. Saya bisa menyaksikan secara langsung beberapa air terjun yang indah. Liburan kali ini adalah nilai yang luar biasa dan sangat direkomendasikan!