Jika Anda mengendari mobil van kecil untuk menjelajahi Sri Lanka, mungkin mobil tersebut adalah satu-satunya kendaraan yang aka Anda lihat sejauh bermil-mil perjalanan. Saat kabut pagi masih melekat di lereng gunung yang hijau, para pemetik daun teh sudah bekerja berjam-jam lamanya. Sekitar 4.000 kaki di atas permukaan laut, keranjang di punggung mereka telah terisi daun teh yang matang dan segar. Ada keajaiban di perkebunan teh Sri Lanka yang tak banyak orang tahu.

Haputale, Sri Lanka

Haputale, Sri Lanka
Haputale, Sri Lanka

Saat musm hujan, mungkin pemandangannya tidak mencerminkan hal itu dimana ada pemetik daun teh di sana-sini. Tetapi di negara teh Haputale di Sri Lanka, wisatawan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Parvati, seorang wanita pemetik daun teh ini terbiasa dengan banyak wisatawan yang berhenti di bahu jalan yang berliku dan beraspal untuk mengambil foto dirinya. Sebagian besar pengunjung telah melanjutkan perjalanan tanpa pernah belajar banyak tentang cara hidup sang pemetik daun teh ini.

Tapi sepertinya itu cara menikmati suatu hal yang paling aneh untuk menjelajahi sisi gunung ini dan mengamati orang-orangnya tanpa berhubungan langsung dengan mereka, atau belajar memetik daun teh dari mereka. Jadi dengan bantuan Intrepid Travel, grup wisata kecil Anda dapat dipastikan melakukan pengalaman ini.

Selama perjalanan melalui Agarapatana Plantations untuk menjelajahi pabrik teh Dambatenne yang ramai dan Lipton’s Seat (sebuah titik pengawasan baron teh Skotlandia), pemandu wisata lokal akan mengambil foto dan buku sambil menjelaskan kompleksitas dari bidang-bidang ini. Tidak butuh waktu lama bagi Anda untuk mengakui bahwa apa yang Anda alami lebih dari sekadar keindahan alam yang menakjubkan dan juga secangkir teh dari sumber aslinya.

Pekerjaan Penduduk Lokas sebagai Pemetik Daun Teh

Lebih dari 1.300 pemetik daun teh tinggal di lokasi di Agarapatana. Masing-masing menghasilkan sekitar 6 dollar AS per hari untuk mengumpulkan 18 kg teh yang diproduksi pabrik setiap hari. Dalam beberapa tahun terakhir, kampanye hak asasi manusia telah menaruh perhatian pada upah yang rendah dan kondisi kontroversial para pemetik daun teh ini. Terutama yang dipaksakan pada perempuan yang merupakan pekerja utama di pasar teh Sri Lanka.

Namun selama tahun-tahun yang sama, perkebunan di kawasan ini telah mengalami gelombang pariwisata, seperti halnya di seluruh negeri. Gagasan bahwa perkebunan teh meningkatkan standar hidup di daerah yang terisolasi dan miskin ini tetap ada, dan itu tidak selalu salah. Pemandu akan berbagi pengetahuan tentang ini dan berbagai hal yang lebih penting lainnya dengan Anda pada hari itu, dan pada setiap hari tur Anda berikutnya.

Lipton’s Seat, Sri Lanka

Lipton's Seat, Sri Lanka
Lipton’s Seat, Sri Lanka

Pulau kecil berbentuk air mata ini adalah rumah bagi banyak keajaiban alam dan buatan manusia seperti Taman Nasional Yala yang dipenuhi gajah dan Batu Sigiriya kuno. Jalur hutan hujan, air terjun, pantai keemasan murni, kuil berhias dan masjid. Perkebunan teh di sini telah lama terhalang oleh konflik dan bencana, tetapi sekarang terbuka untuk para pecandu perjalanan yang penasaran untuk mengunjunginya.

Negara ini akhirnya pulih dari perang saudara selama puluhan tahun yang berakhir pada tahun 2009, dan pada tahun 2004 Samudra Hindia membengkak dalam sebuah tsunami yang menewaskan lebih dari 35.000 di pantai selatan pulau itu. Sri Lanka sejauh ini mempertahankan keaslian dan keindahan alamnya di tengah-tengah perubahan itu, dan tahun 2015 lalu telah memilih presiden pertama mereka pascaperang. Akan tetapi, Sri Lanka membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dari perselisihan dan tragedi, dan negara itu tetap dalam transisi bahkan ketika negara itu membuka diri kembali ke dunia.

Di situlah tur kecil yang dipimpin secara lokal dijalankan. Di negara yang begitu kompleks, Anda harus berusaha untuk melakukan lebih dari sekedar melihat-lihat saha. Cobalah bertemu dengan penduduk setempat untuk mengetahui dan mengalami sendiri gaya hidup mereka. Juga berkontribusi secara langsung kepada mereka.

Terutama di negara-negara yang baru pulih dari konflik politik, salah satu hal terbaik yang dapat Anda lakukan sebagai seorang musafir adalah kembali kepada orang-orang. Dan itulah yang membuat perjalanan semakin menarik dengan mengikuti tur Intrepid’s Real Food Adventures. Tur ini menggunakan kelas memasak serta pengalaman makan yang edukatif sebagai cara menghubungkan pengunjung dengan penduduk setempat.

Memasak di Sri Lanka

Memasak di Sri Lanka
Memasak di Sri Lanka

Intrepid Travel mempekerjakan penduduk setempat baik sebagai pemandu individu maupun sebagai keluarga untuk kegiatan kunjungan rumah. Di sini para pelancong mengambil bagian dalam memasak makanan dan belajar tentang budaya serta agama yang membentuk wilayah spesifik negara tersebut.

Hitungannya, dalam 12 hari perjalanan berkeliling di Sri Lanka, Anda akan makan enam kali di rumah keluarga setempat atau di pertanian dan belajar tentang kegiatan berbasis industri makanan. Anda juga akan melihat penyadap dari getah kelapa yang dipasang tinggi di jaringan pohon palem. Selain itu Anda bisa belajar tentang cara keluarga di pertanian ini membuat yogurt susu kerbau secara tradisional dalam pot terra cotta, dan menyaksikan nelayan panggung yang hanya dapat ditemukan di pulau ini sedang membuat barisan dari tempat bertengger di antara ombak yang menerjang dan peselancar yang terayun-ayun.

Lanka

Lanka
Lanka

Setiap warga lokal yang terhubung dengan Anda tidak hanya karena dihubungkan oleh Intrepid tetapi juga mengganti posisi orang-orang di dalam grup travel secara bergilir selama perjalanan. Anda akan belajar membungkuk dan mengatakan terima kasih dalam bahasa lokal Shinhalese — ‘stuti’ dan ‘ayubowan.’ Tentunya dengan menciptakan pasar pariwisata di mana penduduk setempat mendapat keuntungan langsung dari bakat dan sumber daya mereka sendiri, Intrepid Travel menciptakan pariwisata yang bertanggung jawab di tempat-tempat yang paling membutuhkannya.

Memang lebih mudah untuk menjelajahi dan mengalami sendiri tempat-tempat yang baru stabil ini dengan penuh tanggung jawab, dengan cara-cara konstruktif yang meningkatkan perspektif dan tidak mengabaikan budaya lokal atau tujuan kesejahteraan. Daerah Sri Lanka memiliki wisatawan yang sedikit, tanpa hotel-hotel baru yang menjulang tinggi sejauh mata memandang, terlebih di kota-kota besar Colombo dan Mirissa. Jalan-jalan yang jarang dilalui ini penuh dengan satwa liar, desa, keajaiban alam, dan makanan pedas Sri Lanka.

Desa Haputale, Sri Lanka

Desa Haputale, Sri Lanka
Desa Haputale, Sri Lanka

Puncak dan perkebunan teh Haputale terlalu subur dan orang-orang rentan yang tinggal dan bekerja di sini harus lebih dieksplorasi lebih dari sekadar objek foto saja. Berkat panduan dan gaya tur Intrepid Travel, Anda bisa mengambil foto pemetik daun teh di ladang teh saat pagi hari di musim hujan yang berembun, Namun sebelumnya Anda dapat meminta izin untuk memotretnya.

Anda juga bisa memberikan tip yang sesuai untuk membantunya, dan makan di rumah keluarga terdekat di hari tersebut juga membantu mengenal lebih dekat bagaimana orang-orang di desa-desa ini hidup. Tiga anggota lain dari desa kecil itu dipekerjakan untuk membantu para pemandu dalam tur Intrepid Travel Sri Lanka lainnya, yang berarti empat keluarga di daerah ini saja yang dipekerjakan oleh perusahaan.

Ini adalah pengalaman perjalanan yang langka dimana Anda benar-benar dapat terhubung dengan warga di suatu tempat sehingga merasa berbeda dengan suasana rumah. Perbedaan itu akan membawa kesan-kesan berarti sepanjang hidup.

Setelah melakukan perjalanan ke sini, mungkin Anda akan mengatakan bahwa Anda tidak akan menikmati secangkir teh dengan cara yang sama lagi. Karena tersimpan pengalaman di balik teh-teh yang diseduh tersebut.