Setiap tiga tahun, Kota Tateyama yang berlokasi sekitar 400 km di sebelah Barat Laut Tokyo, melaksanakan ritual sakral Nunobashi Kanjoe. Ritual ini memperlihatkan para wanita yang ditutup matanya berjalan ke “surga”.

Setengah jam sebelum matahari terbit, di mana langit masih gelap gulita, Anda dapat mendaki Gunung Tateyama. Oksigen terasa sedikit, udaranya tipis di ketinggian sekitar 3.000 meter. Wajar bila Anda ngos-ngosan.

Gunung Tateyama adalah salah satu dari tiga gunung suci Jepang, setelah Gunung Fuji dan Haku. Di atas Gunung Tateyama ada sebuah kuil. Dibutuhkan perjuangan ekstra untuk sampai ke atas. Pastikan tubuh Anda tetap fit. Persiapkan diri dan peralatan Anda untuk mendaki. Meski demikin, semua daya upaya yang Anda kerahkan untuk sampai ke atas, sebanding dengan keindahan yang menyabut Anda.

Di atas Gunung Tateyama ada sebuah kuil.
Gunung Tateyama adalah salah satu dari tiga gunung suci Jepang, setelah Gunung Fuji dan Haku.

Perjalanan naik ke gunung ibarat menyeberangi “neraka”, kemudian disambut di Sukhavati, surganya Jepang.

Beruntunglah bagi para pria, terutama ketika Anda hidup di era 1869. Sebab pada saat itu, para wanita tidak diizinkan naik ke atas gunung. Mereka yang melanggar titah tersebut akan dikutuk menjadi pohon aras oleh dewi yang pencemburu. Maka, sSatu-satunya jalan penebusan dosa dan meraih keselamatan adalah ikut serta dalam ritual sakral Nunobashi Kanjoe.

Nunobashi Kanjoe hanya dilakukan sekali tiap tiga tahun.
Nunobashi Kanjoe, secara harfiah berarti “Pemurnian di Jembatan Kain”.

Ritual Permurnian di Jembatan Kain

Nunobashi Kanjoe, secara harfiah berarti “Pemurnian di Jembatan Kain”. Berlangsung di Kota Tateyama, ritual ini dipraktekkan pada Zaman Edo, dari tahun 1603 hingga 1868. Sempat vakum, namun kemudian dihidupkan kembali pada tahun 1996. Ritual ini diadakan setiap  tiga tahun sekali dan kami pun beruntung bisa menyaksikannya langsung.

Inti dari upacara ini adalah menyeberangi Jembatan Nunobashi yang berwarna merah, membentang dari Sanzu-no-kawa, yang menurut kepercayaan Buddha menuju ke Sungai Styx. Konon jembatan ini menghubungkan dunia manusia dengan dunia supranatural, tempat yang dihuni para dewa.

Tidak Harus Beragama Buddha untuk Melantunkan Enmado

Ritual diawali dengan para biksu Buddha menebarkan kain sutra di Enmado, kuil untuk dewa kematian, meminta perlindungan bagi para wanita. Mereka berkumpul di luar, mengenakan kimono putih, dan begitu mereka masuk, mulailah dipanjatkan doa dan permohonan pengampunan atas dosa-dosa mereka. Nyanyian terus berlanjut dan para bhikkhu melewati abu dupa dari kuil menuju ke arah para wanita yang mengelapkan abu dupa tersebut di dada mereka sebagai pemurnian.

Bhikkhu memimpin para wanita melewati jembatan saat ritual.
Musik mengiringi wirual Nunobashi Kanjoe.

Pada ritual kali ini, ternyata tidak hanya diikuti para wanita Jepang. Ada juga yang berkebangsaan Eropa dan Cina dari total 110 wanita yang mengikuti upacara ini Rupanya mereka telah disiapkan dan mendaftar melalui internet. Perlu diingat, bahwa idak ada syarat untuk menjadi Budha. Jika Anda tertarik mengikuti ritual ini, cukup dilihat sebagai peluang untuk sarana menemukan diri sejati Anda dan belajar mengenali diri Anda namun dalam tempat dan kondisi yang  berbeda.

Wanita Dilarang Melihat ke Bawah saat Prosesi

Ketika para wanita meninggalkan kuil, untuk tahapan upacara berikutnya, mereka mengenakan topi jerami kerucut dan ditutup matanya. Mereka menuruni bukit, melewati jemabtan curam dan tidak rata. Pasti ada rasa ragu yang menyergap ketika Anda harus berjalan dan tidak dapat melihat. Anda tidak boleh menunduk atau mengarahkan pandangan ke bawah saat melintasi jembatan. Sebab jika  melanggar hal tersebut, dipercaya akan ada setan yang menyeret dan membawa para perempuan ke sungai.

Ritual Nunobashi Kanjoe yang dipimpin biarawan.
Proses ketika para wanita sedang menutup mata saat hendak melewati jembatan.

Proses ini juga diiringi oleh para musisi yang memainkan musik bertema keadilan yaitu Gagaku, dan para biarawan yang memimpin barisan melemparkan kertas pemurnian lotus ke udara, sebagai symbol membuka jalan ke dunia lain.

Jembatan yang akan dilewati oleh para wanita ditutupi oleh tiga helai kain putih, dan ketika para wanita mencapai tengah jembatan, mereka bertemu dengan para biarawan yang datang dari sisi lain. Tujuan kehadiran para biarawan adalah membimbing para wanita “menuju ke akhirat”, melewati jembatan sebagai area perkuburan mereka.

Tujuan perjalanan para wanita ini adalah Kuil Ubado, yang didedikasikan untuk Uba, pelindung wanita. Kuil tersebut tertutup dan gelap di dalam. Menuju Kuil Ubado, biarawan memimpin para wanita dalam nyanyian dan doa. Nyanyian dan doa  akan membantu para wanita melepaskan diri mereka di masa lalu dan dimudahkan untuk masuk ke surga. Perjalanan mereka ini  meminta bimbingan di masa depan dan memanjatkan permohonan untuk memasuki awal baru.

Para Wanita Alami Trance

Ketika prosesi ini dimulai, ada penampakan yang aneh, satu atau dua wanita menjadi trance (seperti kemasukan) dan mulai mengoceh, sementara yang lain menangis tak terkendali. Tiba-tiba jendela dibuka, sehingga kuil disirami cahaya, dan memperlihatkan tiga puncak Tateyama melalui pantulan jendela kaca. Kondisi ini adalah representasi pemandangan surge, oleh karena itu para wanita diizinkan melepas penutup mata mereka. Selanjutnya, para biarawan memberkati para peserta dengan air suci dari gunung dan prosesi pembersihan spiritual selesai.

Pakaian serba putih saat ritual Nunobashi Kanjoe.
Ketika para wanita meninggalkan bait suci, barulah mereka diizinkan melepas penutup mata dan topi.

Ketika para wanita meninggalkan bait suci, barulah mereka diizinkan melepas penutup mata dan tudung/penutup kepala mereka dan kembali ke jalan seperti semula mereka datang. Kini, para wanita terlahir kembali ke dunia manusia sebagai orang baru dengan jiwa baru. Seluruh upacara adalah upacara ritual kematian dan kelahiran kembali. Inilah prosesi ritual sacral yang hanya terjadi sekali dalam tiga tahun.

Menuju Gunung Suci

Setelah Anda menyaksikan ritual magis tersebut, kami sarankan Anda untuk melanjutkan perjalanan mengeksplorasi gunung suci. Perjalanan untuk menapaki Gunung Tateyama memang tidak mudah.

Sebenarnya Anda tidak perlu berjalan sepanjang hari. Anda bisa mencicipi kereta gantung dan kemudian memandangi secara keseluruan rute Tateyama Kurobe, ke Murodo. Puncak gunung terlihat jelas, diatapi sebuah kuil, dengan lerengnya yang rendah, dan suasana hiruk pikuk.

Pemandangan ini adalah wujud kemilau indahnya musim gugur yang semakin mendekat. Sebuah jalan layang beraspal mengarah menanjak ke villa di ketinggian 2.700m di mana Anda bisa menetap, menghabiskan malam.

Tangga ke Surga

Anda bisa menyusun agenda setelah bermalam, dengan melakukan perjalanan mendaki jalan berbatu yang curam ke puncak. Sangat disarankan untuk mendapatkan pemandangan yang menawan, Anda harus bangun pukul empat pagi. Lengkapi perjalanan Anda dengan headlamp atau obor.

Apa yang akan Anda lewati, disebut tangga menuju surga. Konsepnya adalah menuju puncak gunung, menyaksikan matahari terbit. Cahaya pertama dari hari  baru,  secara berangsur-angsur mengungkap gunung-gunung di sekeliling Anda. Dari kejauhan, kami pastikan Anda bisa melihat bentuk kerucut Gunung Fuji.

Tataplah ke atas, di kuil di puncak, Anda dapat melihat seorang biarawan membungkuk ke matahari. Dia ada di sana untuk menyambut Anda dengan doa, berkat, kain dan  percikan sake yang menambah keindahan hari Anda. Lupakan tentang pantai , inilah surge yang sebenarnya.

Perlu pemandu untuk mendaki Guung Tateyama Kurobe.
Rute ke pegunungan Tateyama Kurobe dibuka dari Mei hingga November,

 

Fakta Seputar Festival Nunobashi Kanjoe
  • Festival Nunobashi Kanjoe berikutnya akan berlangsung pada bulan September 2020.
  • Anda dapat melakukan perjalanan menuju lokasi ini dengan kereta super cepat, dengan waktu tempuh dua jam dari Tokyo ke Toyama. Kemudian lanjutkan perjalanan selama 25 menit naik bus atau taksi ke Tateyama.
  • Rute ke pegunungan Tateyama Kurobe dibuka dari Mei hingga November, tetapi sangat disarankan untuk menyewa pemandu jika Anda berencana mendaki gunung.