Di sebuah desa kecil di Kamboja yang terletak di tepi Sungai Mekong, saya berjalan di atas jalan berbatu perlahan sambil melewati rumah-rumah panggung dan pepohonan rimbun yang daunnya mengkilap. Kelompok tur kecil saya sesekali berkumpul untuk berbicara dengan penduduk setempat dengan bantuan  pemandu kami, Virak, atau direktur pelayaran kami, Phiam. Tetapi kebanyakan dari kami hanya mampu memahami sedikit percakapan dengan penduduk setempat tersebut yang terjadi di  desa yang sepi ini pada siang hari yang panas. Kami mencoba menyapa beberapa anak kecil yang terlihat penasaran dengan kedatangan kami dengan kata “suasdey” dan juga menyapa nenek-nenek yang masih terlihat bersemangat di sekitar rumah mereka pada jam seperti tersebut.

Kami berjalan melewati ruangan teduh dan terbuka di lantai dasar rumah panggung mereka, memandang sekitar cukup lama untuk sekedara mengatakan hello, tetapi tidak begitu lam. Beberapa penduduk setempat mengundang kami ke dalam rumah mereka saat kami lewat. Saya mendapatkan kesempatan untuk melihat ke dalam dapur pedesaan Kamboja dan juga sempat bercanda dengan seorang anak saat bermain dengan anak kucing.

Hanya ada peluang nol persen untuk  menemukan desa ini sendiri. Desa ini tidak disebutkan di dalam buku panduan, dan bahkan hampir tidak terhubung dengan tempat lain melalui jalan darat. Bahkan jika saya mampu menemukannya sendiri, saya pasti akan merindukan kekayaan pengalaman karean di sana ada Virak dan Phiam.

Mereka tidak hanya membangun hubungan dengan komunitas ini, tetapi juga bertindak sebagai jembatan bahasa dan budaya yang memungkinkan kami untuk melakukan percakapan lengkap dengan pertanyaan dan lelucon dengan penduduk setempat, yang gaya hidupnya tampak sangat berbeda dengan kami tetapi kami dapat erasakan kehangatan dan keakraban.

Perjalanan ini tidak seperti apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang ketika membayangkan “perjalanan pantai.” Tidak ada tur tamasya bus atau wahana lain yang terlihat. Namun walaupun begitu, perjalanan ini terletak di jantung dari Pelayaran Avalon Saigon yang dimulai beberapa blok dari pusat kota Saigon dan terus bergerak melalui Sungai Mekong melalui Vietnam. Pelayaran berlanjut sampai ke Kamboja sebelum berbelok ke Sungai Ton Le Sap dan ke danau Ton Le Sap hingga berakhir di kota Siem Reap,tempat dimana kuil Angkor Wat berdiri dengan gagahnya. Kapal kecil itu mampu memuat 36 tamu maksimum di 18 kabinnyadan merupakan satu-satunya kapal pesiar yang berlayar di antara dua kota. Ukurannya yang sedang memungkinkan kapal dan  para penumpangnya untuk menjelajahi desa-desa kecil yang tidak memiliki pelabuhan dan hanya memiliki tepi sungai yang landai.

Mendefinisikan Ulang tentang ‘Wisata Pantai’

“Kami selalu mencari keseimbangan yang tepat dari pengalaman yang otentik,” kata Ryan Droegemueller, Manajer Penciptaan Produk di Avalon, yang bertugas mencari pengalaman baru yang unik di sepanjang Sungai Mekong. Misi panduannya merupakan kombinasi penelitian yang berkelanjutan, koneksi lokal, dan pencarian di luar sungai untuk menemukan komunitas di sekitarnya yang berkembang, merangkul para pengrajin, dan mendapatkan pengalaman yang unik untuk hidup di sekitar sungai Mekong.

“Kami beruntung karena kami sangat sering berlayar di sungai Mekong, dan hal ini memberi kami lebih banyak pilihan,” katanya. “Kami tidak ingin semua kunjungan hanya ke kuil saja, jadi kami bekerja keras untuk menemukan industri lokal, misalnya saja para pembuat topi tradisional, syal, perak, atau permen yang hasil produksinya dapat kami bagikan kepada tamu.”

Daripada membebnai penumpang dengan biaya untuk setiap perjalanan darat, para penumpang akan dapat memiliki akses ke dua tempat kunjungan yang direncanakan setiap hari, dengan lebih banyak waktu bebas untuk bereksplorasi beberapa kota-kota besar.

Menjaga Jadwal Perjalanan Tetap Terupdate

Rencana perjalanan pelayaran dari Avalon Saigon dan saudaranya Avalon Siem Reap berubah setiap tahunnya. Terkadang hal ini terjadi dikarenakan jalur pelayaran lain atau pengunjung mendapatkan penawaran ke tempat yang pernah dikunjungi oleh Avalon. Daripada membanjiri tempat pariwisata yang dapat berdampak pada tempat wisata tersebut, Avalon pun sering membuat keputusan untuk menemukan tempat menarik baru lainnya. Droegemueller mengingat skenario seperti itu: “Kami biasa mengunjungi desa tenun di Kamboja, tetapi seorang pesaing mulai berkunjung dan menjadikan tempt itu populer di kalangan turis dari Phnom Penh, jadi kami pun mencoba menemukan desa tenun yang indah dan kecil lain di Vietnam untuk dikunjungi sebagai gantinya.” Pencarian konstan tempat-tempat autentik ini dilakukan untuk melayani penumpang kapal kecilnya dengan baik.

Itinerary vs. Realitas

Pengalaman yang luar biasa tidak selalu dapat disimpulkan dengam mudah dan rencana perjalanan tidak akan bisa menggambarkan pengalaman khusus ini hanya dengan beberapa kata saja. Untuk menjembatani kesenjangan antara rencana perjalanan dan pengalaman yang sesungguhnya, di sini ada tiga hal penting yang bisa Anda pelajari dari wisata tepi pantai yang telah dipilih secaracermat dan ditawarkan oleh pelayaran Avalon Mekong.

Mengunjungi Sang Pembuat Sampan

pembuat sampan
Seorang pembuat sampan sedang memanaskan kayu di atas api di Vietnam.

“Berhentilah di rumah penduduk setempat, di mana sebuah disana etrdapat keluarga yang terampil bekerja sama untuk membuat kerajinan sampan dari tangan untuk mencari nafkah.”

Pengalaman Berkunjung ke Seorang Pembuat Sampan

Dari kapal, kami melangkah menyeberang ke perahu yang lebih kecil yang mengantar kami menyeberangi sungai Mekong yang luas ke perairan tenang yang dikelilingi oleh tiga jembatan penyeberangan kayu yang menghubungkan dua sisi desa kecil. Kami berjalan menyusuri jalan tanah sempit, melewati kafe darurat dengan beberapa kursi plastik rendah yang ditempati oleh sekelompok pria yang berkerumun di sekitar cangkir yang mengepul.

Di dekat ambang pintu, tiga anak bermain terlihat sedang bermain. Saya berhenti sejenak dan mengintip sebuah toko yang menjual sayuran, manisan, dan bensin. Kemudian, saya berpindah ke sisi lain jalan memperhatikan tiga skuter yang bergerak cepat  dan berlalu lalang dari dan ke feri yang mengangkut orang, barang, dan skuter ke tepi sungai Mekong yang cukup jauh.

Kami tiba di bengkel seorang pembuat sampan, sebuah rumah beratap terbuka yang panjang yang tergantung di tepi sungai kawasan terpencil. Perahu setengah jadi disana dikelilingi oleh sisa-sisa kayu dan serutan yang berbentuk melengkung. Di satu sudut, pembuat sampan berdiri di atas nyala api terbuka, meletakkan sepotong kayu panjang di atas api, membentuk sebuah papan sedikit demi sedikit menjadi berbentuk lengkungan badan kapal. Udara di sekitar pun beraroma seperti hujan, kayu, dan api. Pembuat perahu tersenyum ketika dia berbicara kepada kami tetapi tidak pernah berhenti bekerja. Ia tetap menjaga kayu tetap  berada di atas nyala api saat dia mendengarkan dan menjawab pertanyaan dari pemandu dan penerjemah Vietnam kami, Nam.

Beberapa saat setelah kami pergi, saya terus memikirkan kembali perhentian singkat ini di pikiran saya. Setelah menghabiskan beberapa hari pertama kami di tengah hiruk-pikuk kota Ho Chi Minh, perjalanan tenang dan telah mengenalkan saya pada kehidupan desa Vietnam ini terasa seperti sebuah insprasi yang menenangkan. Hal ini mampu membangkitkan semangat saya untuk mengeksplorasi lebih lanjut daerah pedesaan Vietnam dan Kamboja lainnya.

Mengunjungi Pasar Basah

mengunjungi pasar basah
Pemandangan pasar lokal di Chau Doc, Vietnam.

“Berjalanlah melalui pasar lokal dan coba nikmati hingar-bingar dari penduduk setempat yang sibuk membeli dan menjual ikan, daging, dan hasil bumi.”

Pengalaman Berkesan Selama Berada di Pasar Basah

Ketika kami memasuki pasar yang penuh dengan jalur sempit yang dilewati oleh pejalan kaki dan skuter, kelompok kami yang terdiri dari sekitar 20 orang mulai berpencar. Kami hanya dihubungkan oleh earphone dengan penjelasan dan instruksi dari Nam, pemandu tur melalui Vietnam. Tetapi masing-masing dari kami dapat bergerak dengan kecepatan sendiri. Suasana masih pagi dan kegiatan sarapan sedang dalam puncaknya di warung yang menjual makanan yang berdiri mengapit pasar yang padat. Para pembeli bersaing untuk mendapat tempat duduk di warung tersebut demi menyeruput sup dan duduk berdampingan. Tanah beraspal di pasar yang tidak rata terlihat masih basah karena guyuran hujan. Saya mencoba untuk menghindari genangan air dan bebek yang berlalu lalang di bawah terpal warna-warni yang menaungi pasar lorong tengah pasar sembarangan.

Para penjual bunga merayu dengan bunga-bunga yang telah mereka rangkai. Selain itu, tumpukan menjulang buah-buahan yang masak dan berwarna cerah juga cukup menggoda orang-orang yang lewat. Hal mernarik lainnya yaitu selalu berkumpulnya kerumunan penduduk setempat yang membuat jelas bahwa alasan sebenarnya orang sangattertarik untuk mengunjungi pasar ini setiap hari adalah adanya ikan sungai segar seperti ikan lele, ikan mas, belut, dan puluhan spesies ikan lainnya yang dijual di pasar ini. Banyak ikan yang dijual secara langsung. Ikan-ikan ini masih hidup dan  berenang dengan bebas di dalam sebuah bak dangkal bergelembung yang  memiliki aliran air yang konstan. Tempat ini memang bukan pasar turis. Kami adalah satu-satunya turis di sini dan penduduk setempat terlalu sibuk bersosialisasi dan berbelanja untuk memperhatikan kami. Saya pun kembali  berjalan perlahan, bersyukur atas kesempatan untuk berkunjung ke tempat dan mengamati kegiatan penduduk setempat cukup lama sebelum melanjutkan perjalanan di tengah kembali di tengah teriknya hari itu.

Mengunjungi Reruntuhan Bangunan yang Bersejarah

mengunjungi reruntuhan yang bersejarah
Pepohonan yang tumbuh dari kuil Ta Prohm, Kamboja.

“Jika Anda sudah tiba di Siem Reap, segera mulailah perjalanan tamasya Anda dari Kuil Wat Angkor, yang dianggap oleh banyak orang sebagai reruntuhan arsitektur paling spektakuler di dunia.”

Pengalaman Mengunjungi Kuil Wat Angkor di Siam Reap

Meskipun lebih banyak kunjungan ke daerah pedesaan, pelayaran sungai Mekong ini ternyata ditujukan untuk berlabuh pada tiga perhentian utama yang lebih besar, yaitu Kota Ho Chi Minh (Saigon), Phnom Penh dan Siem Reap. Kota yang terakhir ini (atau untuk orang-orang yang mengambil rute selatan, pertama) merupakan tempat pemberhentian yang akan membawa para tamu keluar dari kapal dan mengijinkan mereka menginap di hotel selama beberapa malam.

Hal ini memungkinkan para wisatawan untuk dapat menjelajahi bukan hanya Angkor Wat, sebuah kompleks kuil yang besar dan terkenal— tetapi juga kuil terkenal lainnya juga. Salah satunya adalah kawasan Candi Banteay Srei yang sedikit tersembunyi dan lebih kecil dari Angkor Wat, namun cukup terkenal dengan ukiran dari batu pasir merahnya rumit. Tempat lainnya yang menarik yaitu kuil Ta Prohm yang merupakan percampuran hutan dan reruntuhan bersejarah seperti dalama dongeng. Yang terakhir adalah Kuil Bayon yang memiliki 200 ukiran wajah Buddha yang menaungi 54 menaranya.

Mengunjungi Kuil Wat Angkor dengan pemandu yang memiliki pengetahuan dalam tentang kuil ini tentu akan membuat perjalanan Anda menjadi lebih menarik. Ada beberapa tanda kecil di kuil, dan juga buku panduan yang menawarkan penjelasan singkat tentang kuil tersebut. Namun, pemandu yang bersertifikat (pemandu beryang sertifikasi khusus untuk memandu wisatwan di Wat Angkor) dapat menceritakan kisah kuil di setiap sudutnya. Bahkan, pemandu tersebut akan dapat memadukan sejarah kuno kuil dan hal-hal baru mengenai kuil yang indah ini dengan gambaran yang lebih lengkap.

Intinya, wisata tepi pantai ini dapat menggambarkan keindahan dan pesona dari Vietnam dan Kamboja secara menyeluruh, tanpa mengurangi realitas dari kedua tempat ini yang mampu menyuguhkan potret kehidupan yang nyata di sepanjang Sungai Mekong.