Saya masih ingat peristiwa itu. Tangan saya basah dan dingin. Namun, saya tetap berusaha memegang tali di depan saya dengan kuat. Tak berapa lama kemudian, tubuh saya terantuk sebuah batu granit besar di kegelapan yang pekat. Saya benar-benar merasa terkejut dan saya pun mulai mempertanyakan apa yang telah terjadi. Saat itu memang masih jam 2 pagi dan suasana masih cukup gelap, sehingga saya tidak dapat melihat apapun dengan jelas,.

Jika Anda penasaran, sebenarnya saat itu saya sedang berada dalam perjalanan menuju ke puncak sebuah gunung di Kalimantan, yaitu gunung Kinabalu. Gunung ini merupakan gunung tertinggi kedua di Asia Tenggara dan perjalanan menuju puncaknya adalah sebuah tantangan yang luar biasa. Apakah Anda ingin tahu apa yang membuat saya berani melakukan perjalanan yang menakjubkan ini? Anda bisa menyimaknya dalam cerita yang akan saya paparkan di bawah ini.

Pemandangan hutan Kalimantan yang indah.
Pemandangan hutan Kalimantan yang indah.

Pengalaman Pertama Menjelajah Hutan di Pulau Kalimantan

Pertama kali saya tahu tentang wilayah Kalimantan secara mendalam adalah melalui internet. Jika Anda mencari foto Kalimantan melalui situs pencarian, Anda akan menemukan foto-foto hutan tropis, pantai pasir putih, dan pasar terapung yang memukau di sana. Jadi, saya pun menyimpulkan bahwa saya tidak akan memerlukan headlamp, jaket berbulu, jaket dalaman yang lebih tipis, sepatu hiking, dan kaus kaki wol saat pergi ke sana.

Saya pun mulai merencanakan untuk melakukan perjalanan pertama kalinya ke Kalimantan selama beberapa hari. Ketika saya mendaftar untuk perjalanan ini, saya belum tahu banyak tentang Kalimantan. Saya bahkan berasumsi bahwa tempat ini merupakan salah satu  pulau dengan hutan lebat di kawasan Asia, tetapi ternyata pulau ini adalah pulau terbesar ketiga di dunia. Selain itu, di dalam pulau ini terdapat tiga negara yang berbeda. Jika Anda bertanya-bertanya, mengapa saya melakukan perjalanan ini, saya pun tidak memiliki jawaban yang pasti. Saya hanya tahu itu adalah perjalanan yang harus saya tempuh dan lakukan.

Setelah saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ini, saya tahu bahwa saya akan sedikit keluar dari zona nyaman saya. Untuk itu, saya pun perlu mempersiapkannya dengan matang. Pada saat orang lain sibuk mempersiapkan hal-hal lain untuk perjalanan mereka seperti untuk mengajukan tiket pesawat, mengurus rekening bank dan berkemas, tidak banyak orang yang mempersiapkan diri untuk menghadapai tantangan emosional, mental, dan fisik yang pasti akan dihadapi saat bepergian negara lain yang jauh.

Setiap perjalanan memiliki sisi baik dan buruk dan memang tidak ada perjalanan pertama kali yang sempurna. Sebagian orang melakukan perjalanan karena ingin merasakan tantangan, belajar hal-hal baru dan mengubah perspektif mereka. Saya pun setuju dengan hal ini, karena saya merasakan hal tersebut saat melakukan perjalanan ke Kalimantan. Jika Anda ingin tahu pengalaman dan pelajaran yang saya dapat dari perjalanan di pulau Kalimantan, Anda bisa membacanya di bawah ini.

1. Mempersiapkan Segala Sesuatu dengan Matang Ternyata Sangat Penting

hutan di kalimantan
Mempersiapkan segala sesuatu sebelum perjalanan merupakan hal yang panting.

Saya pikir saya sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Saya sudah memeriksakan kesehatan jauh-jauh hari, mendapatkan suntikan kekebalan, membaca semua informasi yang diberikan oleh agen tur perjalanan, membeli asuransi perjalanan dan mencari informasi tentabg kehidupan penduduk setempat. Saya juga sudah membawa segala perlengkapan, mengemas pakaian dan bahkan membawa beberapa makanan yang saya sukai.

Salah satu tantangan terbesar yang saya hadapi saat emelakukan persiapan adalah saat mengemasi pakaian dan perlengkapan yang tepat. Sya harus bisa memilih perlengkapan tepat untuk kegiatan tertentu seperti mendaki gunung dan menjelajahi hutan. Saya tidak memiliki kaus kaki lintah, penutup untuk ransel saya, lampu senter kepala atau pakaian yang mudah kering.

Oleh karena itu saya pun mencari beberapa informasi dari instagram untuk melihat apa yang sebenarnya orang pakai saat menjelajah daerah tersebut. Saya bersyukur saat mengetahui bahwa beberapa kegiatan akan lebih menantang tanpa perlengkapan yang lengkap. Saya pun merasa senang karena saya sudah mempersiapkan diri dengan baik dan tidak perlu mengkhawatrikan apapun. Saya juga merasakan bagaimana sebuah persiapan yang baik akan dapat membantu Anda dalam berbagai keadaan.

Karena saya adalah seorang wisatawan yang bepergian sendiri dalam perjalanan kelompok tersebut, saya pun harus berbagi kamar dengan wisatawan lain. Pada hari pertama, teman sekamar saya tejatuh di kamar yang kelelahan setelah menempuh penerbangan panjang dari Eropa. Dia juga merasa panik karena bagasinya tidak disertakan dalam penerbangan lanjutan. Dia pun tiba di tempat tujuan tanpa barang-barang penting termasuk lampu senter kepala, ransel hiking, dan charger telepon. Namun, maskapai itu meyakinkan bahwa dia akan mendapatkan tasnya kembai sebelum kami pergi ke puncak gunung. Saya pun berusaha meminjamkan charger telepon saya kepadanya dan tak lama kemuidan, dia pergi ke toko terdekat untuk membeli beberapa kebutuhan. Saya menyadari bahwa persiapan yang baik ternyata sangat bermanfaat sejauh ini.

Mempersiapkan perjalanan dengan matang akan membuat Anda lebih tenang. Tetapi yang perlu Anda ingat terkadang adalah terkadang semua tidak berjalan dengan semestinya, dan Anda pun harus bersiap dengan kemungkinan tersebut.

2. Belajar untuk Menghadapi Tantangan Mental dan Emosional

Bersiap untuk menghadapi segala tantangan dalam perjalanan.
Bersiap untuk menghadapi segala tantangan dalam perjalanan.

Kadang-kadang ketika Anda sedang berada di negara lain untuk beberapa waktu, Anda mungkin akan merindukan makanan lezat kesukaan Anda.  Selain itu, kurangnya akses Wi-Fi, kesulitan saat menggunakan Google Maps, perbedaan waktu, dan pilihan makanan yang masih asing untuk Anda, juga bisa menjadi tantangan. Hal tersebut akan terasa semakin kuat, ketika Anda bepergian tanpa teman atau sendirian.

Sebaiknya, Anda memesan paket perjalanan jauh-jauh hari sebelumnya supaya Anda tidak merasa kewalahan saat mendekati masa keberangkatan. Saya pun melakukan hal ini untuk perjalanan saya ke Kalimantan. Saya tiba sehari sebelum anggota tur lainnya datang. Saya juga mengambil tur kota singkat pada saat hari pertama kedatangan saya. Dengan begini, saya dapat dengan mengenal kawasan tersebut dengan baik.

Ketika saya mendarat dari pesawat, saya merasa sangat lelah. Bahkan, saya hampir tidak bisa berdiri. Namun, saya senang tidak perlu memikirkan banyak hal karena semua sudah saya persiapkan dengan baik sebelumnya.

Semua berjalan dengan baik sampai saya tiba di tempat tujuan. Namun, pasti akan ada sedikit perasaan kesepian dan tidak nyaman saat berada di tempa asing. Anda mungkin juga akan merasakannya. Walaupun perasaan tersebut muncul, Anda harus yakin bahwa Anda bisa keluar dari zona nyaman Anda. Dengan melakukan perjalanan ini, saya  pun meyakinkan diri bahwa saya dapat melakukannya. Ada saat-saat tertentu dimana kita harus mengandalkan naluri alami kita. Dan bepergian adalah cara yang tepat untuk mewujudkannya dan pada saat tersebut, Anda dapat berpikir lebih jernih  tanpa pengaruh media sosial, teman, keluarga, atau rekan kerja.

Bepergian dapat mengistirahatkan Anda dari rutinitas harian sejenak dan dapat memberikan Anda perspektif baru. Ketahuilah bahwa Anda mungkin akan merindukan hal-hal yang Anda sukai saat bepergian, tetapi jangan terlalu mengkhawatirkannya. Setelah Anda selesai melakukan perjalanan, pasti ada sesuatu yang bisa Anda pelajari. Setiap pengalaman di dalam perjalanan tentu akan sangat berkesan dan Anda bisa memberi tahu teman-teman Anda sepulang dari perjalanan Anda nanti.

3. Mengenal Teman-teman Baru Saat Perjalanan

Anda dapat berpetualang dengan teman-teman baru di dalam tur grup.
Anda dapat berpetualang dengan teman-teman baru di dalam tur grup.

Bepergian ke tempat asing dengan orang yang belum Anda kenal mungkin tampak tidak terlalu menyenangkan. Namun, yang mengejutkan, hal ini ternyata menjadi suatu hal yang sangat berkesan dalam perjalanan saya.

Kami memiliki tujuan yang sama saat menempuh perjalanan ini, yaitu melakukan sebuah perjalanan yang bertanggung jawab. Di tempat ini, kami mempromosikan pembersihan sampah di salah satu pulau. Beruntungnya, kami memiliki seorang pemandu yang sangat membantu. Kehadirannya dapat menghilangkan masalah seperti hambatan bahasa. Dengan bantuannya, kami dapat melakukan hal-hal penting lain di tempat tujuan. Misalnya saja berpartisipasi dalam salah satu program penginapan dari pemerintah,  makan bersama keluarga desa setempat dan belajar mengenal suku asli Kalimantan.

Kesiapan mental yang kami miliki ternyata dapat membantu kami  menghadapi situasi yang tidak diinginkan. Salah satunya saat ada satu peserta yang kehilangan perlengkapannya, namun ia tetap berjuang untuk mendaki gunung yang menantang. Cukup menarik bukan? Dari sini, saya belajar bahwa ketika saya melakukan sebuah perjalanan, saya harus siap menghadapi tantangan secara mental dan emosional.

4. Menumbuhkan Keberanian untuk Meghadapi Tantangan

Mendaki sampai ke puncak gunung Kinibalu menjadi pengalaman yang luar biasa.
Anda dapat belajar hal-hal baru setelah melakukan pendakian.

Mendaki sampai ke puncak gunung Kinibalu menjadi pengalaman yang luar biasa.Perjalanan kami pun berlanjut. Kami harus mendaki salah satu gunung tertinggi di Asia Tenggara, yaitu gunung Kinibalu. Setelah berhasil mencapai puncaknya, kami pun turun dari gunung Kinabalu. Saya dan teman-teman sekelompok saling memandang dengan tidak percaya. Kami menganggap hal ini sebagai puncak perjalanan yang sangat menantang. Meskipun kami semua telah mempersiapkan diri dengan matang, tidak ada yang bisa mempersiapkan kami untuk menghadapi tantangan fisik dan mental untuk mencapai puncak gunung. Dari sini, saya bisa merenungkan sisi positif dari pengalaman saya. Saya dapat lebih mengenal teman-teman saya di dalam kelompok pendakian. Bahkan saya juga sempat berlajar sesuatu dari pemandu gunung kami. Ia bercerita bahwa ia telah kehilangan putranya dalam peristiwa gempa tahun 2015, tetapi ia masih bersemangat untuk mendaki gunung hampir setiap hari.

Selain itu, saya juga belajar dari para porter yang bekerja sekitar area gunung. Mereka masih sempat berkompetisi setahun sekali untuk naik dan turun gunung dalam waktu di bawah tiga jam. Padahal untuk mencapai puncak gunung, para turis biasanya membutuhkan waktu lebih dari dua hari. Lebih dari itu tentu saja, saya dapat melihat pemandangan matahari terbit yang menakjubkan. Sesuai yang sudah diberitahukan dalam rangkaian rencana perjalanan, bahwa pendakian ini merupakan puncaknya. Jika saya tahu betapa menantangnya perjalanan ini, mungkin saja saya tidak akan berani keluar dari zona nyaman saya.

Namun, saya belajar bahwa terkadang ketidaktahuan bisa menjadi suatu hal yang menyenangkan. Hal ini akan membuat Anda menikmati setiap momen yang Anda hadapi seperti saat mendaki gunung. Anda bahkan bisa belajar segala sesuatu dari perjalanan Anda. Meskipun Anda memiliki beagam pertanyaan di kepala Anda saat itu, Anda tidak akan menyesal setelahnya.

5. Mendapatkan Pelajaran tentang Sejarah

Selama dalam perjalanan, saya juga mengetahui banyak hal-hal baru. Pada mulanya, saya belum tahu banyak tentang pulau Kalimantan. Sehingga, saya ingin sekali belajar banyak setelah saya tiba. Beberapa hari setelah perjalanan, saya pun bertanya kepada pemimpin tur saya, Jeffry, apakah dua lebih tahu tentang tentang Kalimantan atau Malaysia. Ia pun menjawab, “Saya lebih tahu banyak tentang Pulau Kalimantan daripada sejarah Malaysia.” Dan ia pun mulai bercerita tentang sejarah politik wilayah tersebut setelahnya. Jawaban yang ia berikan cukup masuk akal, karena ia nampak benar-penar paham saat menceritakan hal ini.

Sabah, negara bagian yang saya kunjungi, terletak di Kalimantan Utara. Di masa lalu, negara ini merupakan bagian koloni Inggris. Setelahnya, wilayah ini berubaha menjadi di bawah pendudukan Jepang dalam Perang Dunia II. Wilayah ini bukan bagian dari Malaysia hingga tahun 1963, sebelum memperoleh kemerdekaannya dari pemerintahan Inggris.

Selama Perang Dunia II, tempat ini menjadi rumah tahanan Jepang dan lokasi penyisaaan para tahanannya. Ratusan tahanan, yang sebagian besar adalah tentara Australia dan Inggris, harus berbaris dan berjalan dalam jarak yang jauh. Hal ini pun mengakibatkan hampir 2.000 kematian dan hanya enam orang yang selamat.

Tiga buku karya Agnes Keith, Land Below the Wind, Three Came Home, dan White Man Returns, yang telah saya baca sebelum saya memulai perjalanan seolah telah memberi tahu saya tentang sejarah Kalimanatan. Buku etrsebut menggambarkan tentang Kalimantan Utara sebelum, selama, dan sesudah Perang Dunia II. Cerita dan ilustrasinya pada buku tersebut menjadi sebuah pelengkap perjalanan saya selama berada di Kalimantan. Saya memang berharap dapat mengetahui sejarah pulau ini sebelum memulai perjalanan.

Dari sejarah tersebut, saya pun menyimpulkan bahwa setiap tempat memiliki kisahnya sendiri. Untuk perjalanan ke kalimantan, saya sudah memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pulau ini. Bukan hanya secara datang secara langsung, tetapi saya juga belajar tentang masalah politik, budaya, dan lingkungan yang pernah terjadi di pulau ini. Tidak peduli apa pun genre atau bentuk hiburan yang Anda sukai,seperti buku, film, acara TV, podcast, dan dokumenter yang diilhami oleh setiap negara di dunia, mempelajari sejarah tentang tempat tujuan Anda sebelum, selama, dan setelah perjalanan dapat memperkaya pengetahuan Anda.

6. Selalu Siap Jika Perjalanan Tidak Sesuai dengan Harapan

Menjaga kebersihan saat berwisata adalah hal yang penting
Menjaga kelestarian kehidupan para satwa adalah hal yang penting

Ketika perjalanan saya berlanjut,  saya bersama dengan teman-teman satu kelompok tur belajar lebih banyak hal lagi. Selama perjalanan, kami sempat melihat orangutan, tetapi mereka berayun di kabel telepon yang sudah rusak. Kami melihat gajah kecil, tetapi mereka mencari makan di sebuah area perkebunan yang kosong. Kami menyaksikan matahari terbenam di langit senja yang indah di tepi pantai, tetapi terlihat botol-botol plastik terlihat mengapung di tepi pantai terbawa oleh arus air laut. Melihat pemandangan ini, hari saya pun merasa sedih.

Pariwisata di kawasan ini memang sangat bergantung pada margasatwa dan wisata alamnya. Namun, sayangnya seperti kebanyakan negara berkembang lainnya, Sabah mengalami masalah lingkungan, termasuk pencemaran sampah di lautan, penggundulan hutan, dan perburuan sarang burung. Hal ini sebenarnya sudah terlihat dari pemandangan yang telah saya lihat sebelumnya di atas.

Karena saya melakukan tur kelompok dengan agen tur perjalanan yang cukup terpercaya, kami pun dapat semakin memahami tentang masalah lingkungan tersebut. Kami juga dapat mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak buruj dengan kedatangan wisatawan ke tempat tersebut. Kami ingin melakukan sesuatu untuk membantu pelestarian lingkungan di sana.

Selam perjalanan, kami pun teringat tentang Pulau Penyu. Sebuah pulau kecil dengan program konservasi untuk penyu yang memungkinkan hanya 45 orang menginap per malam. Selain itu, di sana juga terdapat pelarangan penggunaan tabir surya yang dapat merusak terumbu karang. Setiap tamu bahkan akan mendapatkan sebuah tas untuk mengumpulkan sampah di pulau tersebut. Program pelestarian lingkungan seperti ini mungkin saja dapat dicontoh oleh pulau Kalimantan.

Melihat kondisi nyata pulau Kalimantan, saya pun berkata pada diri saya bahwa tidak apa-apa jika apa yang saya alami tidak semuanya sesuai harapan. Ya, di sana saya memang dapat melihat kehidupan orangutan yang sesungguhnya. Namun lebih dari itu, sekarang saya juga bisa memberi masukan pada wilayah tersebut untuk mempromosikan kegiatan pariwisata yang lebih bertanggung jawab.

Jika Anda dapat mempersiapkan diri secara mental dan fisik untuk menerima tantangan dengan bepergian ke negara-negara yang jauh hal ini akan menjadi pengalaman yang berharga. Pengalaman ini tentu akan selalu Anda ingat dalam yang lama, bahkan saat Anda sudah pulang ke rumah nantinya.