Siapapun yang menyebut Kamboja, mungkin akan teringat dengan Angkor Wat, salah satu situs bersejarah sekaligus tempat beribadah umat Hindu terbesar di Dunia. Namun hanya sebagian orang yang paham dengan Angkor Thom, sebuah reruntuhan Kerajaan Khmer Kuno yang juga berdiri di tanah Kamboja.

Angkor Thom, adalah saksi bisu Ibukota Kerajaan Khmer Kuno yang masih berdiri megah. Berlokasi sekitar 7,2 km sebelah utara Siem Reap, dan 1,7 km dari utara pintu masuk ke Angkor Wat.

Bagi orang Indonesia, pemandangan candi atau bangunan prasejarah bercorak Hindu sama seperti yang biasa mereka lihat di Negri sendiri – namun nilai sejarah sebuah bangunan tentunya tak bisa tegantikan.

Puing-puing Mahakarya Raja Jayawarman VII

Konon katanya, ini adalah singgasana Raja Jayawarman.

Angkor Thom yang secara harafiah berarti kota besar, didirikan oleh Raja Jayawarman VII seluas 9 kilometer persegi. ia membangun kota ini dengan sangat megah pada masanya. Terbukti dari sisa bangunan seperti candi-candi, istana dan arca besar yang masih terlihat utuh dan usang.

Candi yang masih terlihat asli di kompleks reruntuhan ini adalah candi Lokeswara dan candi Bayon. Bangunan bersejarah ini juga menyimpan beberapa monumen dari masa sebelum Raja Jayawarman VII memerintah, sebagai wujud penghormatan dirinya pada sang leluhur.

Di sebelah utara candi Bayon, terdapat lapangan terbuka yang dulu sering digunakan Raja sebagai alun-alun. Pada masanya, kota ini merupakan pusat kegiatan pembangunan monumental di Kamboja. Di kota kuno ini, juga ditemukan salah satu prasasti oleh arkeolog. Bukti sejarah itu menggambarkan Raja Jayawarman VII bersanding dengan kota ini bak seorang pengantin yang telah menyatu dengan mahakaryanya.

Angkor Thom, simbol kejayaan Khmer Kuno

Candi yang terletak di Kota Yasodharapura, saksi bisu pasukan Vietnam Selatan memberontak Khmer Kuno.

Kompleks situs bersejarah Angkor Thom adalah Ibukota Kerajaan Khmer Kuno yang baru. Sebelumnya, ada Kota bernama Yasodharapura yang telah dibangun tiga abad sebelumnya. Yasodharapura berlokasi di barat laut Angkor Thom dan hanya berjarak sekitar 10 kilometer.

Ada kisah memilukan di balik cerita kepindahan Ibukoata yang megah ini. Pada tahun 1150, ada tragedi perebutan kekuasaan lewat sebuah pemberontakan di kerajaan Khmer. Pemberontakan ini terjadi tepat setelah ditinggal pergi Raja Suryawarman. Sayangnya konflik ini malah dimanfaatkan oleh kerajaan Champa yang berlokasi di Vietnam Selatan.

Mereka mengirim pasukan menyebrangi Laut, mengikuti aliran Sungai Mekong dan beberapa danau. Para prajurit lantas menyerang Yasodharapura yang kala itu masih menjadi Ibukota kerajaan Khmer. Hingga pada tahun 1177 M Ibukota itu hancur. Serangan dari kerajaan Champa menewaskan Raja Tribhuwanidityawarman. Akibat hancurnya kota dan keberhasilan Vietnam Selatan memenangkan wilayah ini, Kerajaan Khmer Kuno dikuasai oleh Kerajaan Champa hingga tahun 1181 M.

Candi Bayon, bukti penting kemenangan Raja Jayawarman VII merebut kembali kejayaan Khmer Kuno.

Kekuasaan Kerajaan Champa atas Khmer berakhir setelah Raqja Jayawarman VII menghimpun pasukannya untuk mengusir tentara Champa. Kemenangan Raja Jayawarman atas haknya ia abadikan dengan membangun candi Bayon. Kisah ini terlihat di relief candi yang menggambarkan Raja Jayawarman beserta rakyatnya bertempur dengan tentara Champa.

Angkor Thom tetap menjadi ibu kota kerajaan Khmer hingga akhirnya ditinggalkan penghuninya sebelum tahun 1609. Diperkirakan pada masa kejayaannya kota ini menampung penghuni sebanyak 80.000–150.000 orang.

Perjalanan ke Kamboja

Passport, identitas wajib bagi Anda yang ingin keluar Negri.

Bagi orang Indonesia, datang ke Kamboja tidaklah sulit. Ada dua bandara yang menyediakan perjalanan ke Phnom Penh, Ibukota Kamboja – yakni bandara Soekarno Hatta dan bandara Kuala Namu, Deli Serdang.

Selain tiket pesawat, Anda juga harus mengurus booking hotel atau penginapan sejenis. Namun bagi Anda yang tidak begitu menyimpan banyak uang, Kamboja adalah Negara yang ramah dengan backpacker kantong tipis. Rata-rata, hostel (penginapan sederhana) di Kamboja tidak lebih dari 10 USD per malam dan fasilitasnya sudah termasuk bagus. Kamar beserta perabotannya yang bersih, selimut sprei dan bantal yang layak pakai.

Harga makanan di Kamboja juga murah. Nilainya nyaris setengah harga dari yang terjual di Jakarta.