Dari budaya nomaden kuno hingga representasi hukum Syariah, Indonesia merupakan Negara yang sangat kental dengan budaya dan Agama. Namun dari semua itu, budaya telah menemukan rendang sebagai kuliner asli khas Sumatra Barat, Indonesia

Makanan ini merupakan masakan daging sapi paling enak di dunia. Bukan sekedar pengakuan dari satu atau dua turis mancanegara, namun beberapa situs travel telah menobatkan makanan ini sebagai yang terlezat yang pernah mereka makan.

Proses memasaknya butuh dua hari. Kombinasi bawang merah, bawang putih, santan, batang sereh, dan bahan rempah lainnya telah menggoyang lidah pecinta daging sapi.

Makanan ini sangat mudah di temukan di Indonesia. Terutama ketika Anda mengunjungi ‘warung padang’. Dagingnya tidak selembut steak, namun bumbunya merupakan cerminan kekayaan Indonesia.

Jika Anda tidak begitu menyukai makanan pedas, lebih baik mencicipi bumbunya terlebih dahulu. Karena makanan ini menggunakan cabai sebagai bumbu utamanya. Tapi setiap tempat memiliki porsi cabainya masing-masing. Maka dari itu, lebih baik mencoba bumbunya terlebih dahulu baru Anda memutuskan untuk memakannya atau tidak.

Di Sumatra, makanan ini sangat mudah ditemukan. Ibu-Ibu rumahtangga atau nenek-nenek sering menyajikan makanan ini kepada cucunya.

Bagi orang Indonesia, memasak rendang adalah tradisi turun-temurun. Potongan daging dimasak dalam api kecil selama lebih dari enam jam, agar santan dan bumbu meresap masuk ke daging yang tebal.

Proses memasak yang panjang ini akan mengurangi jumlah santan namun akan melunakkan daging, memungkinkan bumbu meresap ke lapisannya. Hasil akhirnya adalah kari yang kental dan kering, paling nikmat disajikan dengan nasi putih dan dimakan dengan tangan.

Asal usul rendang

Meskipun popularitasnya tersebar luas di Malaysia dan Singapura, laporan awal menunjukkan bahwa rendang berasal dari masyarakat Minangkabau di Padang di Sumatra Barat. Rendang sangat disukai sehingga ada perdebatan yang berkelanjutan seputar asal-usul kari kering yang kaya rempah ini.

Tanah minang, tempat dimana rendang pertama kali ditemukan.

Satu teori yang valid mengusulkan bahwa rendang meresap ke dalam budaya Melayu ketika orang Minang dari Sumatra Barat mulai bermigrasi ke semenanjung Malaysia untuk bekerja dan berdagang. Bagaimanapun, berkeliaran atau bermigrasi (merantau) adalah bagian dari budaya Minangkabau.

Hingga saat ini anak muda minang diajarkan untuk meninggalkan kampung halaman mereka untuk belajar, bekerja, dan belajar tentang dunia luar ketika mereka sudah dewasa.

Banyak orang Minangkabau tiba dan membangun kehidupan di berbagai tempat di Malaysia, tetapi kebanyakan di Negeri Sembilan: negara pantai dekat pulau Sumatra, Indonesia.

Pada saat yang sama, orang Minang juga membawa rendang ke seluruh kepulauan Indonesia, di mana resep gurihnya diterima dengan baik oleh komunitas lokal lainnya. Hingga hari ini, restoran Padang atau ‘Minang’ masih dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.

Berbagai daerah memiliki seni memasak rendang yang berbeda. Misalnya saja rendang Malaysia, yang sering mengolahnya dengan kelapa parut bakar. Adapun rendang yang memiliki pengaruh India, terutama dalam memiilih rempah-rempah. Rendang Jawa, di sisi lain, sering kurang kering dan kurang pedas dari versi Minang.

Mengapa hanya makanan rendang yang menyebar ke seluruh Indonesia? Mungkin karena rendang adalah makanan yang tahan lama dan lezat. Sangat sesuai dengan karakterisitik orang Minang yang suka merantau. Sehingga makanan ini adalah olahan daging yang sesuai untuk bekal selama berlayar.

Bawang merah, bawang putih, lengkuas, daun jeruk, cabai merupakan sebagian dari bumbu untuk memasak rendang.

Rendang tetap baik selama berminggu-minggu bahkan di suhu kamar. Resep rendang otentik dan lengkap berisi sekitar 16 bumbu dan rempah-rempah, yang banyak di antaranya tidak hanya memberi rasa tetapi juga membantu dalam pengawetan. Hal ini menjadikan rendang makanan yang ideal untuk dibawa sepanjang perjalanan merantau selama seminggu di laut – makanan yang dikemas untuk para pengembara Minang ke mana pun mereka pergi.

Rendang sebagai ‘raja masakan Indonesia’

Ketika pertama kali direbus, rendang tidak dianggap sebagai hidangan sehari-hari. Makanan ini hanya diperuntukkan bagi upacara tradisional yang paling penting, orang minang menyebutnya sebagai kepalo samba (kepala piring). Artinya kedudukan makanan ini lebih berharga dan dihargai daripada makanan lain dalam budaya Minangkabau.

Dipercayai bahwa rendang telah ada di meja sejak ritual pertama orang Minang, termasuk penobatan, pernikahan, dan acara tradisional penting lainnya. Hingga saat ini, rendang masih menjadi salah satu hidangan wajib jamuan perayaan Idul Fitri.

Rendang sangat populer bahkan memiliki upacara tradisional hanya untuk membuat makanan ini. Ada sebuah tradisi mengumpulkan para wanita Minang di rumah untuk mempersiapkan rendang yang layak. Upacara itu dimulai dari membeli bahan sampai menunggu proses memasak yang lambat yang bisa memakan waktu lebih dari delapan jam.

Setelah ini, orang tua berkemas dan mengirim rendang ke anak-anak dan kerabat mereka yang kebetulan merantau di tempat lain.

Mengaduk rendang berulang kali adalah kunci keberhasilan daging yang empuk.

Dalam dialek Minang lokal, rendang atau randang berarti ‘lambat’, kata yang paling tepat menggambarkan proses memasaknya yang metodis dan susah payah.

Dari memilih daging yang paling ideal, mengumpulkan enam belas bumbu, menyiapkan bahan-bahan, diikuti dengan proses memasak dalam api kecil hingga santan yang mengering.

Dari sebuah kesabaran, akan menghasilkan masakan yang luar biasa lezat.

Kadang-kadang selama marandang, orang tua menggunakan kesempatan ini untuk mengajar putri mereka tentang kesabaran, kebijaksanaan, dan kegigihan. Tiga hal penting yang diperlukan untuk mencapai rendang yang diinginkan.

Filosofi bumbu dan bahan baku rendang

Rendang yang lezat juga mewakili seluruh masyarakat Minangkabau. Empat bahan utama melambangkan satu bagian penting dari komunitas.

Kerbau, daging sakral bagi masyarakat Minang.

Daging (biasanya sapi atau kerbau) melambangkan Niniak Mamak, atau pemimpin tradisional, bangsawan, dan tua-tua. Mereka adalah orang-orang yang menjaga masyarakat, menjunjung tinggi tradisi, dan menjaga ketertiban.

Air kelapa melambangkan Cadiak Pandai, atau para intelektual masyarakat – guru, penyair, penulis, akademisi. Kelompok ini memiliki pengaruhnya sendiri pada masyarakat – mereka membawa kebijaksanaan dan seni untuk melembutkan dan mengangkat semua orang.

Cabai dan kelapa, bumbu yang tidak boleh lepas dari rangkaian resep rendang.

Cabai, yang merupakan salah satu bahan penentu rendang yang baik, mewakili Alim Ulama, atau pemimpin agama. Panasnya menggambarkan hukum Syariah Muslim, yang bisa kaku tetapi dianggap perlu.

Campuran rempah-rempah adalah bagian dari masyarakat – dinamis, beragam, dan masing-masing menyampaikan rasa berbeda yang berdampak pada seluruh komunitas. Meskipun rendang memasukkan daftar rempah-rempah yang lengkap, mereka semua disimpan dalam keseimbangan yang baik, dengan peran yang berbeda bekerja bersama untuk menciptakan masyarakat yang paling kondusif.

Menurut filosofi ini, semua unit masyarakat hidup berdampingan dan saling meningkatkan: berkomunikasi dan berinteraksi untuk memecahkan masalah dan meningkatkan kehidupan. Hubungan produktif antara anggota suatu komunitas ini dikenal sebagai musyawarah.

Lain kali Anda akan menikmati sebagian dari hidangan tradisional yang lezat ini, melahapnya dengan apresiasi baru terhadap budaya dan nilai-nilai yang dimasukkan ke dalam resep.