“Irma adalah wanita yang jahat”. Ucapan supir taksi ini awalnya terkesan menyinggung saya saat mengunjungi Pulau Virgin Gorda. Namun itu adalah memori yang tersisa di ingatannya ketika Irma, badai kategori lima yang menghantam dan meluluhlantakkan sebagian Kepulauan Virgin Britania Raya pada 2017. Badai Irma menabrak jejeran penghalang pulau tersebut dengan kecepatan angin hingga 185 mil per jam. Merobek atap, menumbangkan pohon, dan menghancurkan semuanya yang ada di depannya.

“Kami sebelumnya telah mengalami serangan badai kategori lima. Namun tidak ada yang seperti itu. Tidak pernah dalam hidupku aku melihat kemarahan alam seperti itu, ujar sopir taksi tersebut sambal menggelengkan kepalanya.

Seolah tak cukup sampai di situ saja, hantaman-hantaman lainnya pun menyusul setelah Badai Irma berlalu. Ada Badai Maria dan banjir besar yang terjadi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah wilayah tersebut, gubernur mengumumkan keadaan darurat. “Irma tidak boleh kembali ke Kepulauan Virgin Britania Raya. Kami akan mengambil paspornya,” ujar sopir tersebut dengan nada bercanda namun mimik wajah yang serius.

Ketika taksi melaju kencang di jalanan, mata saya terpaku pada jejak Badai Irma yang menghancurkan hal-hal di sekitarnya. Kapal-kapal yang penyok bersandar di daratan, tiang-tiang telepon yang tertancap tegak lurus di tanah. Butuh waktu enam bulan sebelum Kepulauan Virgin Britania Raya kembali memiliki kekuatan untuk bangkit dan memulihkan diri. Namun, kini, semuanya telah berjalan normal. Kepulauan Virgin Britania Raya kembali kepada denyutnya semula.

Keindahan laut Kepulauan Virgin Britania Raya, Bermuda.
Snorkeling di Kepulauan Virgin Britania Raya, Bermuda.

Kepulauan Virgin Britania Raya Siap Menyambut Wisatawan

Tak bisa dipungkiri, denyut perekonomian Kepulauan Virgin Britania Raya tergantung pada pariwisata. Hal ini berbeda dengan pulau lain di Karibia. Dan setiap dolar yang masuk ke Kepulauan Virgin Britania Raya setengahnya bersumber dari petualangan di atas air. Ya, ketika menjelajahi pulau-pulau ini, banyak orang memilih melakukannya dengan perahu, berlabuh di dekat satu pulau lalu menghabiskan malam dengan berlabuh di tempat lain.

Lebih dari 2.000 akomodasi saat ini tersedia di Kepulauan Virgin Britania Raya berada di laut. Tepatnya di dalam kapal. Setelah badai, banyak perusahaan penyewaan kapal dan industri pelayaran melakukan pemulihan dengan cepat.

Di sisi lain, hotel, bagaimanapun juga melakukan pemulihan yang lebih lambat karena serangan musim angina topan tahun lalu. Sebelumnya ada 627 hotel bed yang tersedia di darat, jauh dibandingkan dengan sebelum badai, yakni 2.700 unit. Dampak yang dirasakan tidak sama di setiap pulau. Misalnya, di Tortola, pulau yang paling padat penduduknya, banyak hotel melakukan pembangunan kembali, sementara di Anegada, banyak hotel dan vila baru melakukan pemulihan pada awal Februari.

Penginapan di Pulau Cooper.
Pulau Cooper dapat diakses oleh perahu pribadi atau kapal sewaan.

Di Pulau Cooper, sebuah pulau kecil di sebelah tenggara Tortola yang dapat diakses oleh perahu pribadi atau kapal sewaan, pembangunan kembali merupakan proses yang lambat namun pasti. Seperti di Cooper Island Beach Club yang ramah lingkungan, resor ini bekerja keras untuk memulihkan segalanya, termasuk kafe, micro brewery, dan bar rum dengan pilihan rum terbanyak se-Kepulauan Virgin – selanjutnya kemudian beroperasi kembali pada April.

Membangun Kembali Fasilitas

Mengembalikan keindahan dan kesiapan surga kecil ini untuk menyambut seluruh tamunya bukanlah tugas kecil. Irma telah meluluhlantakkan dua dermaga denganc ara menyapu pasir setinggi lima kaki dari pantai. “Hampir semuanya harus diperbaiki. Kami telah mengganti sebagian besar komponen dari grid panel surya dan listrik karena intrusi air laut,” kata Patrick Brady, Sustainability Engineer dari resort.

Hal ini dikarenakan resor ramah lingkungan tersebut menggunakan panel surya yang memasok 85 persen energi. Serangan Badai Irma mengakibatkan kerusakan yang sulit dibayangkan oleh tamu. “Pompa air dan peralatan listrik juga telah diganti. Kami juga membersihkan dan menyegel kembali setiap tadah di properti karena kontaminasi dari air asin dan vegetasi. ” tambah Patrick.

Kepulauan Virgin Britania Raya ibarat surga kecil.
Batu-batu besar di sepanjang pantai Kepulauan Virgin Britania Raya.

Selain terkenal karena pohon-pohon palem yang rindang dan tanaman anggur laut yang banyak berjejer di pasir, pantai di sepanjang Kepulauan Virgin Britania Raya  tampak kelihatan lengang.  Tapi Cooper Island Beach Club — yang merupakan perhentian favorit di antara pengunjung dan penduduk setempat — kembali beroperasi. Dan kali ini, sama indah dan lestarinya seperti sebelum badai. Pantai ini juga tumbuh kembali, berkat program Seeds of Love yang tujuannya mengumpulkan dan menyumbangkan bibit dari pulau di sekitarnya.

Jangan khatair, Pulau Cooper masih memiliki matahari terbenam yang indah dan padang rumput terbesar di semua Kepulauan Virgin Britania Raya. Bahkan permintaan Beach Club untuk microbrews-nya lebih tinggi dari sebelumnya.

Bencana Baru

Badai tahun lalu bukan satu-satunya tanda ancaman pemanasan global. Rumput laut Sargassum — tanaman laut coklat yang licin dengan bau khas ini, yang dapat mencemari pantai adalah bencana alam baru di Karibia. Dengan jumlah lebih banyak dari sebelumnya, beberapa resor harus bekerja ekstra untuk membersihkan rumput lau ini.  Bahkan di beberapa pulau-pulau terpencil, rumput laun ini berubah menjadi tumpukan, ada yang setinggi 10 kaki, membentang sepanjang garis pantai.

“Ini jauh lebih buruk daripada tahun lalu,” kata beberapa penduduk. Ahli botani Cooper Island Beach Club, menyebutkan rumput laut  inisebenarnya bukan merupakan dampak langsung dari badai.

Deforestasi yang terjadi di Amazon telah menyebabkan peningkatan nutrisi daripada sebelumnya. Kemudian mengalir ke sungai dan membawanya ke laut,  selanjutnya menyuburkan koloni rumput laut. Rumput laut ini semakin berkembang, mekar dan besar pada lingkungan yang memiliki air hangat, membentuk seperti alas raksasa. Kemudian terbawa ke utara oleh angin dan arus lautan — tidak hanya di seluruh Karibia, tetapi juga sejauh utara North Carolina.

Di area pantai, para pekerja membersihkan rumput laut tidak hanya agar pengunjung pantai terhindar dari bau, tetapi juga karena kondisi ini juga berbahaya bagi makhluk hidup atau biota laut yang terjerat dalamnya. Di Pulau Cooper, ada banyak orang yang membersihkan rumput laut pagi-pagi sekali, tetapi pada saat matahari terbenam di atas puncak-puncak Tortola, semuanya sudah bersih kembali.

Jejeran resort di Kepulauan Virgin Britania Raya.
Kapal-kapal berlabuh di Pelabuhan Tortola, Kepulauan Virgin Britania Raya.
Memulihkan Surga

Selama berjalan menyusuri kebun di Pulau Cooper, kami merasakan udara segar yang diproduksi dari pohon-pohon rindang di sekitar. Setelah badai, dalam angin yang ganas yang dibawa oleh Badai Irma dan Maria, ada sejenis tanaman-tanaman tanpa akar menahan tanah. Awalnya tak ada yang memperhatikan tanaman itu dan bagaimana ia berfungsi. Namun etelah badai berlalu, tanaman-tanaman ini dirawat kembali.

Kondisi itu tepat sekali menggambarkan pembangunan kembali. Membangun kembali, memulihkan apa yang rusak adalah proses yang sulit dan terkesan lama. Namun ada harapan untuk bisa menjadi lebih baik seiring dengan tersisanya potongan-potongan yang tetap bertahan meski dihantam badai. Diperlukan komitmen mendalam  untuk menjaga pulau-pulau ini tetap indah dan ramah. Semoga generasi mendatang tetap bisa memmpertahankannya.